Alhamdulillah sudah memasuki pekan keenam. Rencananya Senin nanti mau USG. Disarankan USG kedua tempat kanan dan kiri lebih melebar. Siapa tahu waktu lagi USG calon orok nyumput :D Jadi nggak sabar nih pengen USG.
Gejala-gejala mual dan pusing masih kurasakan. Kadang-kadang juga ke luar lagi makanan atau minuman yang masuk ke perut. Rasa elah juga wuah... tak tertahankan. Begitu gletak di lantai langsung tidur. Enak sih, dingin... Tapi bahaya juga kalau kelamaan. Masuk angin.
Tadi ibu SMS menanyakan keadaan kehamilanku. Alhamdulillah baik-baik saja. Ibu berpesan agar aku tidak manja saat hamil. Kukatakan saja, bukan manja tapi dimanja. Suamiku benar-benar sangat khawatir dengan kehamilanku. Mungkin karena melihat kehamilanku yang lumayan terlihat berat bagi dia karena dia tidak merasakannya :)
Setiap kali mencuci, dia selalu bilang, "Neng jangan capek-capek." Begitu juga ketika aku ingin membersihkan kipas di kamar atau kegiatan apapun. Bahkan untuk ikut belanja membeli buah saja dia setengah hati mengizinkan aku ikut diboncengnya. Intinya aku nggak boleh ngapa-ngapain. Harus istirahat.
Aku sangat paham betapa suamiku mengkhawatirkan kami. Ini adalah kali pertama kami mengalami kehamilan. Dan, jika diperkenankan akan langsung mendapatkan dua. Jadi begitu khawatirnya ia jika aku terlalu lelah. I love you my hubby...
Mungkin yang agak berbeda di minggu ini aku doyan buah. Senang sekali tadi beli jeruk sama pir. Eh langsung dua buah kumakan. Padahal ukurannya jumbo. Jadinya beser pengen pipis melulu...:D
Ya Allah lindung kami semua, berikan kami yang terbaik. Lapangkan dada kami. Berkahi kami dengan kasih sayang-MU. Aamiin..
Sabtu, 27 Juni 2009
Jumat, 26 Juni 2009
Bisa Sedikit Bahasa Indonesia

Miris membaca laporan wawancara sebuah harian dengan seorang artis pendatang baru. Artis yang baru pertama kali main film Indonesia tersebut mengaku hanya bisa sedikit berbahasa Indonesia. Padahal ia adalah warga negara Indonesia (WNI). Ayah ibunya notabene orang Indonesia. Ia juga lahir di ibu kota negara Indonesia. Sejak brojol ke dunia, dia menghirup udara Indonesia. Ko dengan santainya dia berkata "Saya bisa Bahasa Indonesia, sedikit."
Kalau yang berkata seperti itu adalah Barrack Obama, tak jadi masalah. Toh dia di Indonesia hanya satu tahun lamanya. Tapi ini WNI asli yang mengatakan hal itu.
Dalam penuturannya, artis muda ini bersekolah di sebuah SD Internasional. Ia dibiasakan ayah ibunya berbahasa Inggris sejak kecil. Alasannya, mereka ingin anak-anaknya mudah berkomunikasi dengan orang dari seluruh penjuru dunia. Terdengar hebat ya? Tapi menurut saya justru aneh.
Oke dia bisa berkomunikasi dengan orang dari manapun (yang menggunakan Bahasa Inggris tentu saja) tapi dia sulit berkomunikasi untuk sekadar membeli gula di warung misalnya. Okelah dia bukan tipe anak yang suka diminta pergi ke warung karena seluruh kegiatan rumah tangga ada pembantu.
Tapi coba jika ia akan ditanya oleh temannya yang dari penjuru dunia itu, "Bahasa Indonesia itu seperti apa?" Akankah ia merasa bisa menjawabnya dengan baik jika dia tidak memiliki rasa Bahasa Indonesia lantaran tidak mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari? Akankah orang yang hanya berbicara Bahasa Indonesia saat bersama pembantu saja ia bisa meresapi rasa bahasa nasional itu di dalam dirinya? Akankah ia merasa menjadi orang Indonesia kalau ia tidak fasih berbicara bahasanya sendiri?
Sedih rasanya mendengar hal itu ke luar dari mulut anak usia 10 tahun. Bahkan pewawancara menuliskan di akhir salah satu pernyataan artis muda ini, "tuturnya dalam Bahasa Inggris". Bayangkan, pewawancara saja harus menerima jawaban dalam bahasa Inggris dari seorang WNI yang tinggal di Indonesia sejak lahir. Tidak dijelaskan oleh pewawancara apakah ia pun harus bertanya dalam Bahasa Inggris. Tapi di salah satu pernyataannya, artis belia ini tidak mengerti naskah yang diterimanya karena ditulis dalam bahasa Indonesia! GUBRAK!! Dia baru paham maksud dialog-dialog yang ada di dalamnya setelah sang ibu mengalihbahasakannya dalam Bahasa Inggris. Malahan sang ibu memiliki harapan lain, anak-anaknya bisa berbahasa Perancis.
Menurut saya, sangat baik mempersiapkan anak menghadapi era globalisasi yang tinggal selangkah lagi. Mengajarkan dan membiasakan Bahasa Inggris adalah salah satunya. Tapi bukan berarti tidak menanamkan rasa kebahasaannya sendiri karena Bahasa Indonesia adalah jati diri kita orang Indonesia. Bukankah bahasa nasional kita Bahasa Indonesia? Menjadi bahasa pemersatu pun melalui perjuangan yang tidak mudah untuk sampai pada Sumpah Pemuda 1928. Berbahasa satu, Bahasa Indonesia. Jadi kalau memang orang Indonesia, wajib bisa berbahasa Indonesia sefasih Pangeran William dengan Bahasa Inggrisnya, Kim Jong-Il dengan Bahasa Koreanya, Mahmoud Ahmadinejad dengan Bahasa Persianya, Aishwarya Rai dengan Bahasa Hindinya, Jackie Chan dengan Bahasa Mandarinnya, dan siapapun dengan bahasa nasionalnya masing-masing. Bukan berarti mereka tidak bisa Bahasa Inggris atau mungkin bahasa asing lainnya tapi mereka tidak lupa, tidak melupakan akar dari mana mereka berasal.
Mungkin penyanyi Anggun bisa jadi contoh. Penyanyi asal Indonesia yang dulu dikenal dengan nama Anggun C Sasmi bisa melanglang buana tanpa harus kehilangan identitasnya sebagai orang Indonesia. Meskipun saat ini dia sudah berpindah kewarganegaraan tapi dia masih merasa sebagai orang Indonesia karena kepindahan kewarganegaraannya lebih dikarenakan memudahkannya bertinggal di negeri orang. Maklum, dia orang sibuk yang konser keliling dunia. Jadi kalau harus bolak-balik ngurus perpanjangan izin tinggal kan repot. Makanya berpindah kewarganegaraan lebih cenderung ke arah sana.
Tapi coba saja kita lihat. Dia tetap cinta Indonesia. Dia tak pernah lupa membuat lirik versi Bahasa Indonesia untuk beberapa lagunya yang berbahasa Inggris. Terkadang ia juga memiliki lagu dan album versi Bahasa Perancis. Jadi, tidak harus lupa dengan bahasa tanah air sendiri kan? Buktinya dia bisa melakukannya dalam tiga bahasa, Indonesia, Inggris, Perancis dan semuanya bisa diterima masyarakat. Itu malah menjadi kelebihan di dari penyanyi lainnya.
Bahkan saking cintanya dengan Indonesia, dia selalu kangen dengan Teh Botol yang mungkin hanya ditemui di Indonesia. Dia juga berencana melakukan konser di kota-kota kecil di Indonesia. Bukan di mana-mana, di Indonesia. Diva internasional ini tidak lantas sombong. Walaupun dia sudah mengalahkan Beyonce Knowless dalam sebuah survey mengenai Diva Internasional yang memberikan inspirasi. Ia di peringkat empat dan Beyonce lima.
Coba saja, apakah Anggun lantas enggan berbahasa Indonesia ketika ia di Indonesia? Jangan salah, dia senang berbahasa Indonesia. Bahkan dalam salah satu wawancara, pewawancara pernah bertanya, "Masih bisa Bahasa Indonesia?" Anggun justru terlihat kaget. Saya lupa apa jawaban pastinya tapi yang jelas berisikan mengapa ia harus lupa dengan bahasa tempatnya berasal. Ia selalu menggunakan Bahasa Indonesia ketika berada di Indonesia. Bahkan dalam konsernya. Putri tercintanya pun dinamainya dengan nama yang Indonesia banget, Kirana.
Jadi, haruskah menaggalkan identitas diri yang asli demi globalisasi?
Rabu, 24 Juni 2009
Dua?
Ini bukan tentang Pilpres 2009 yang sedang heboh. Ini tentang kami, aku, suami, dan calon anakku.
Kami menikah tahun 2007. Alhamdulillah baru sekarang kami memiliki gejala akan memiliki keturunan :) Jadi lumayan lah dua tahun kami pakai untuk pacaran :D
Tahun lalu aku sempat memeriksakan diri ke dokter kandungan. Hasilnya, baik-baik saja. Tidak ada yang salah dengan diriku. Ada satu kista ukuran 1,7 mm yang katanya cukup kecil dan akan hilang jika aku hamil.
Namun rupanya Allah belum berkehendak. Suamiku yang trauma dengan dokter, enggan memeriksakan diri. Maklum, ia pernah menjadi korban malpraktek sehingga sulit baginya untuk percaya lagi dengan orang-orang berprofesi dokter. (Anda yang berprofesi dokter tidak usah kesal, ini hal yang wajar saja to?) Selain itu, pekerjaan suami yang tidak jelas waktu kerjanya menyulitkan dia untuk bisa memeriksakan diri di jam praktek dokter.
Akhirnya tiba masa di mana kami memiliki waktu luang untuk fokus pada keturunan. Pilihan kami adalah berobat kepada herbalis. Ini bukan dukun melainkan ahli pengobatan dengan ramuan tumbuh-tumbuhan yang diracik sendiri oleh herbalisnya.
Setiap pekan kami diperiksa dan dilihat perkembangannya. Rupanya di dalam rahimku ada tokso. Sedih rasanya mendengar hal itu. Namun sang herbalis memintaku untuk bersabar karena menurutnya itu bisa disembuhkan jika sudah terjadi pembuahan. Maka setelah terjadi pembuahan, aku mendapatkan obat anti virus tokso.
Alhamdulillah setelah sekitar tiga bulan berobat, aku dinyatakan positif hamil. Memang selain obat, aku juga diberi pantangan memakan makanan mengandung pengawet, makanan rasa asam, daging bakar. Itu semua memang biang penyakit. Rupanya tokso yang sempat kuderita lantaran dari kecil aku doyan sate dan ayam bakar. Kalau makanan dan minuman berpengawet, itu sih rasanya hampir semua ahli kesehatan melarangnya. Iya kan?
Bulan lalu aku tidak mendapatkan haid. Aku juga diminta untuk mengecek ke dokter atau bidan. Pilihanku jatuh pada bidan. Saat bidan memeriksa, dia tidak bisa "memegang" janin dalam tubuhku. Makanya aku diminta untuk kembali lagi dalam empat pekan yang jatuh Senin besok. Kami berencana USG.
Selama ini kami (aku dan suami) tetap memeriksakan diri ke herbalis karena perkembangan tiap minggu harus dipantau. Menurut herbalis, aku sudah mengandung sekitar tujuh pekan. Tapi perhitungan dokter atau bidan kemungkinan berbeda. Itu tidak menjadi masalah selama kami sehat-sehat saja.
Kabar mengejutkan hadir sekitar tiga pekan lalu. Menurut diagnosa herbalis, aku mengandung dua bayi, di kanan dan kiri. Namun untuk memastikannya aku diminta USG. Kebetulan jadwal USG Senin depan jadi aku tunggu saja lah. Hehe...
"Mudah-mudahan diagnosa saya benar. Tapi kalau misalnya hanya satu tetap diterima kan?" tanya herbalis pada kami. Ya tentu saja kami menerima. Itu kan anugerah. Masa iya kami tidak menerimanya. Toh kami sudah menunggu dari 2007 :)
Apapun hasil USG nanti, kami pasrah. Tentunya harapan kami diagnosa herbalis itu benar. Suamiku memang memiliki garis keturunan kembar, jadi siapa tahu benar. Apalagi kalau melihat gejala kehamilan yang aku rasakan. Kata orang-orang di sekitarku, "Ko payah banget hamilnya?"
Memang rasa mual dan pusing tak henti-hentinya mendera. Keinginan untuk buang air kecil juga sangat sering. Padahal kalau baca di artikel-artikel kehamilan, di usia tujuh minggu belum sesering ini buang air kecilnya.
Ya kami berharap yang terbaik. Mudah-mudahan harapan kami memang yang terbaik bagi kami. Doakan kami ya..
Kami menikah tahun 2007. Alhamdulillah baru sekarang kami memiliki gejala akan memiliki keturunan :) Jadi lumayan lah dua tahun kami pakai untuk pacaran :D
Tahun lalu aku sempat memeriksakan diri ke dokter kandungan. Hasilnya, baik-baik saja. Tidak ada yang salah dengan diriku. Ada satu kista ukuran 1,7 mm yang katanya cukup kecil dan akan hilang jika aku hamil.
Namun rupanya Allah belum berkehendak. Suamiku yang trauma dengan dokter, enggan memeriksakan diri. Maklum, ia pernah menjadi korban malpraktek sehingga sulit baginya untuk percaya lagi dengan orang-orang berprofesi dokter. (Anda yang berprofesi dokter tidak usah kesal, ini hal yang wajar saja to?) Selain itu, pekerjaan suami yang tidak jelas waktu kerjanya menyulitkan dia untuk bisa memeriksakan diri di jam praktek dokter.
Akhirnya tiba masa di mana kami memiliki waktu luang untuk fokus pada keturunan. Pilihan kami adalah berobat kepada herbalis. Ini bukan dukun melainkan ahli pengobatan dengan ramuan tumbuh-tumbuhan yang diracik sendiri oleh herbalisnya.
Setiap pekan kami diperiksa dan dilihat perkembangannya. Rupanya di dalam rahimku ada tokso. Sedih rasanya mendengar hal itu. Namun sang herbalis memintaku untuk bersabar karena menurutnya itu bisa disembuhkan jika sudah terjadi pembuahan. Maka setelah terjadi pembuahan, aku mendapatkan obat anti virus tokso.
Alhamdulillah setelah sekitar tiga bulan berobat, aku dinyatakan positif hamil. Memang selain obat, aku juga diberi pantangan memakan makanan mengandung pengawet, makanan rasa asam, daging bakar. Itu semua memang biang penyakit. Rupanya tokso yang sempat kuderita lantaran dari kecil aku doyan sate dan ayam bakar. Kalau makanan dan minuman berpengawet, itu sih rasanya hampir semua ahli kesehatan melarangnya. Iya kan?
Bulan lalu aku tidak mendapatkan haid. Aku juga diminta untuk mengecek ke dokter atau bidan. Pilihanku jatuh pada bidan. Saat bidan memeriksa, dia tidak bisa "memegang" janin dalam tubuhku. Makanya aku diminta untuk kembali lagi dalam empat pekan yang jatuh Senin besok. Kami berencana USG.
Selama ini kami (aku dan suami) tetap memeriksakan diri ke herbalis karena perkembangan tiap minggu harus dipantau. Menurut herbalis, aku sudah mengandung sekitar tujuh pekan. Tapi perhitungan dokter atau bidan kemungkinan berbeda. Itu tidak menjadi masalah selama kami sehat-sehat saja.
Kabar mengejutkan hadir sekitar tiga pekan lalu. Menurut diagnosa herbalis, aku mengandung dua bayi, di kanan dan kiri. Namun untuk memastikannya aku diminta USG. Kebetulan jadwal USG Senin depan jadi aku tunggu saja lah. Hehe...
"Mudah-mudahan diagnosa saya benar. Tapi kalau misalnya hanya satu tetap diterima kan?" tanya herbalis pada kami. Ya tentu saja kami menerima. Itu kan anugerah. Masa iya kami tidak menerimanya. Toh kami sudah menunggu dari 2007 :)
Apapun hasil USG nanti, kami pasrah. Tentunya harapan kami diagnosa herbalis itu benar. Suamiku memang memiliki garis keturunan kembar, jadi siapa tahu benar. Apalagi kalau melihat gejala kehamilan yang aku rasakan. Kata orang-orang di sekitarku, "Ko payah banget hamilnya?"
Memang rasa mual dan pusing tak henti-hentinya mendera. Keinginan untuk buang air kecil juga sangat sering. Padahal kalau baca di artikel-artikel kehamilan, di usia tujuh minggu belum sesering ini buang air kecilnya.
Ya kami berharap yang terbaik. Mudah-mudahan harapan kami memang yang terbaik bagi kami. Doakan kami ya..
Main Game
Aku bukan pecinta game. Mau itu game di handphone, komputer, online, tak satupun yang menjadikanku suka, apalagi cinta. Pikirku, main game buat apa sih?
Game yang ada di handphone-ku saja nilainya masih kosong sampai akhirnya adikku yang memulai untuk mengisinya dengan angka-angka. Karena dia asik, aku jadi penasaran apa sih yang membuatnya stand by bermain dengan handphone-ku? Kucoba bermain rupanya seru juga. Hehe..
Lalu kulihat keponakanku bermain game di komputer. Kuperhatikan cara bermainnya. Lumayan mudah. Tinggal klak-klik mouse. Maklum, permainannya hanya mencocokkan warna, makanan yang dipesan, buat anak-anak SD lah. Hehe.. Kalau permainan yang heboh-heboh seperti perang-perangan wah nggak tertarik sama sekali. Berisik pula.
Permainan mencocokkan ini membuatku keasikan sendiri. Aku bermain dengan dua nama. Haha... Satu untuk menguji kemampuan sekali jalan, yang satu lagi untuk selalu mencetak angka "Ahli" alias "Expert" dalam setiap fase. Rupanya susah juga. Haha..
Ada lagi permainan yang membuatku ingin mencetak rekor baru, yaitu permainan mahjong di handphone suamiku. Aduh kesel banget rasanya. Tadi gara-gara telat sepersekian detik saja langsung game over. Sebel deh... Kan jadi harus ngulang lagi. Pfuih..
Untungnya sih nggak sampai keterlaluan sukanya sama main game. Masih bisa ngerem lah.. Nggak sampai lupa makan (wah ini sih nggak mungkin lupa :D), lupa pekerjaan rumah, lupa diri. Nggak lah alhamdulillaah... Jadi boleh dibilang nggak sampai addict. Toh seminggu nggak main game itu pun nggak masalah asalkan ada game yang lain. Haha..
Cuma satu nih yang belum kucoba, main game online. Bakalan ketagihan nggak ya? ;)
Game yang ada di handphone-ku saja nilainya masih kosong sampai akhirnya adikku yang memulai untuk mengisinya dengan angka-angka. Karena dia asik, aku jadi penasaran apa sih yang membuatnya stand by bermain dengan handphone-ku? Kucoba bermain rupanya seru juga. Hehe..
Lalu kulihat keponakanku bermain game di komputer. Kuperhatikan cara bermainnya. Lumayan mudah. Tinggal klak-klik mouse. Maklum, permainannya hanya mencocokkan warna, makanan yang dipesan, buat anak-anak SD lah. Hehe.. Kalau permainan yang heboh-heboh seperti perang-perangan wah nggak tertarik sama sekali. Berisik pula.
Permainan mencocokkan ini membuatku keasikan sendiri. Aku bermain dengan dua nama. Haha... Satu untuk menguji kemampuan sekali jalan, yang satu lagi untuk selalu mencetak angka "Ahli" alias "Expert" dalam setiap fase. Rupanya susah juga. Haha..
Ada lagi permainan yang membuatku ingin mencetak rekor baru, yaitu permainan mahjong di handphone suamiku. Aduh kesel banget rasanya. Tadi gara-gara telat sepersekian detik saja langsung game over. Sebel deh... Kan jadi harus ngulang lagi. Pfuih..
Untungnya sih nggak sampai keterlaluan sukanya sama main game. Masih bisa ngerem lah.. Nggak sampai lupa makan (wah ini sih nggak mungkin lupa :D), lupa pekerjaan rumah, lupa diri. Nggak lah alhamdulillaah... Jadi boleh dibilang nggak sampai addict. Toh seminggu nggak main game itu pun nggak masalah asalkan ada game yang lain. Haha..
Cuma satu nih yang belum kucoba, main game online. Bakalan ketagihan nggak ya? ;)
Sabtu, 20 Juni 2009
Minggu Ke-5
Ini adalah pekan kelima kehamilanku. Alhamdulillah masih kurasakan mual, pusing, dan lemas. Beberapa kali makanan yang kumakan ke luar lagi.
Yang aku rasakan, nafsu makanku begitu hebat. Tapi begitu membuka rice cooker, langsung susut. Baunya bikin mual. Akhirnya aku hanya mengambil nasi tiga perempat dari porsi normalku. Memakannya pun rasanya penuh perjuangan karena harus berkutat dengan rasa mual yang melanda saat makan. Setelah makan rasanya kenyang sekali sampai-sampai perut serasa penuh. Tapi sekitar dua jam kemudian, rasa lapar yang hebat melanda lagi.:D
Pusing juga kualami sejak dua pekan lalu. Setiap siang hari aku merasa pusing dan badanku lemas sekali. Inginnya cuma rebahan. Badan juga berasa gerah terus jadinya aku seperti Puteri Jepang. Berkipas melulu. Jantungku juga serasa berdegup lebih kencang daripada biasanya. Apalagi siang hari. Wuih jadinya cape.
Sekarang baru merasakan tepatnya menentukan berhenti bekerja. Dalam keadaan seperti ini, tak sanggup aku bekerja. Terlalu lelah. Tadi saja untuk menyetrika pakaian aku harus berhenti dulu sekitar 30 menit untuk kemudian melanjutkannya kembali. Alhamdulillah Mba tukang gosok yang kemarin sakit sudah sembuh jadinya bisa meneruskan pekerjaanku. :)
Tuh pusingnya sudah kembali menyerang. Jadinya sempoyongan nulisnya nih. Hehe..
Istirahat dulu ah..
Yang aku rasakan, nafsu makanku begitu hebat. Tapi begitu membuka rice cooker, langsung susut. Baunya bikin mual. Akhirnya aku hanya mengambil nasi tiga perempat dari porsi normalku. Memakannya pun rasanya penuh perjuangan karena harus berkutat dengan rasa mual yang melanda saat makan. Setelah makan rasanya kenyang sekali sampai-sampai perut serasa penuh. Tapi sekitar dua jam kemudian, rasa lapar yang hebat melanda lagi.:D
Pusing juga kualami sejak dua pekan lalu. Setiap siang hari aku merasa pusing dan badanku lemas sekali. Inginnya cuma rebahan. Badan juga berasa gerah terus jadinya aku seperti Puteri Jepang. Berkipas melulu. Jantungku juga serasa berdegup lebih kencang daripada biasanya. Apalagi siang hari. Wuih jadinya cape.
Sekarang baru merasakan tepatnya menentukan berhenti bekerja. Dalam keadaan seperti ini, tak sanggup aku bekerja. Terlalu lelah. Tadi saja untuk menyetrika pakaian aku harus berhenti dulu sekitar 30 menit untuk kemudian melanjutkannya kembali. Alhamdulillah Mba tukang gosok yang kemarin sakit sudah sembuh jadinya bisa meneruskan pekerjaanku. :)
Tuh pusingnya sudah kembali menyerang. Jadinya sempoyongan nulisnya nih. Hehe..
Istirahat dulu ah..
Perfume, The Story of A Murderer

Itu adalah judul novel yang pernah kubaca beberapa waktu yang lalu. Iseng, sebenarnya. Nggak niat baca tapi disodorin buku itu dan saat itu belum punya buku bacaan yang sangat ingin dibaca, ya akhirnya dibaca juga novel karya Patrick Sueskind, penulis asal Jerman.
Menarik. Memang buat saya rasanya sulit membayangkan seseorang memiliki kemampuan penciuman sedemiakian hebat seperti yang dimiliki Jean-Baptiste Grenouille. Tapi lepas dari itu, saya rasa dia harus diacungi jempol. Dia orang yang tahu kemampuannya dan gigih berupaya agar bau yang selama ini begitu menggetarkan jwanya bisa ia dapatkan lagi. Walaupun caranya tidak terpuji. Nah kalau soal ini, nggak setuju lah.
Nah tadi saya menyaksikan visualisasinya lewat film. Jalan ceritanya sedikit banyak sama dengan novelnya. Tidak mengecewakan. Hanya saja rasa yang saya dapatkan saat membaca novelnya dengan menonton filmnya sangat berbeda.
Sewaktu membaca novelnya, saya seperti mengikuti alur pikir si Grenouille sang pembunuh. Seolah-olah saya menjadi dia (aduh serem amat ya..). Tapi begitu melihat filmnya, sangat berbeda. Saya hanya menjadi orang luar yang tidak ikut serta di dalamnya. Bukan berarti buruk sebenarnya. Hanya saja kebengisan, dinginnya darah Grenouille yang saya dapatkan saat membaca novel malah jadi rasa kasihan begitu melihat filmnya. Jauh berbeda. Adakah yang salah di sini?
Jumat, 19 Juni 2009
Mari Menulis!!
Aku membaca sebuah milis tentang pengumuman pemenang lomba menulis artikel. Bukan ingin tahu siapa pemenangnya, tapi takjub saja karena milis yang selama in adem ayem dengan informasi yang itu-itu saja (pernikahan, kelahiran anak, forward-an milis tetangga dll) dengan tokoh yang berganti-ganti atau malah bisa muncul dua sampai tiga kali (hehe anaknya lahir melulu), tiba-tiba jadi agak seru. Beberapa orang yang semula tidak peduli dengan tulis-menulis di blog, jadi peduli. Lumayan juga kan reaksinya...
Menulis seperti hal yang mudah, tapi begitu dicoba, wah putar-putar Jakarta, Ancol, Monas tuh otak kita (maksudku, bagi yang tidak terbiasa menuangkan isi kepalanya dengan cara menulis). Sampai sekarang juga aku masih seperti itu. Rasanya menuangkan isi kepala dalam bentuk tulisan seperti membuat peta ke rumah semut lalu menggambarkan isi di dalam rumah itu. (Lebay pisan nya?)
Tapi itulah yang aku rasakan saat ini. Isi kepala tidak melulu berakhir dengan artikel, cerpen, puisi. Bisa saja berupa ocehan seperti yang aku lakukan saat ini. Seandainya ada pakar bahasa yang mengatakan, ocehan ini bukan karya, ya jangan marah. Ini memang ngoceh dibantu jari. Hihi...
Tapi memang, menulis akan jauh lebih baik jika penulis kaya kosa kata. Tidak monoton. Tentunya, resep utama rajin membaca. Dua hal: baca tulis. Kegiatan utama yang diperkenalkan semasa TK atau SD kelas 1 dulu rupanya memang berdampak luas sampai tua. Dua keterampilan dasar yang bisa melahirkan orang-orang luar biasa. Sebagian besar dari mereka karena senang membaca dan atau rajin menuangkan isi kepalanya lewat tulisan, entah itu untuk dikonsumsi sendiri ataupun untuk dipublikasikan.
Kalau boleh berpendapat bebas (boleh dong ya...) sekarang ini orang jadi lebih mudah mengaktualisasikan diri lewat karya tulisnya, apapun bentuknya. Berbagai blog adalah sarana yang baik untuk itu. Guru bahasa di sekolah-sekolah harusnya bisa menjadikan perkembangan teknologi dan kemasyarakatan ini untuk menilai anak didiknya. Ya biarkan mereka berkembang sesuai zamannya. (Walah gaya pisan...). Biarkan mereka menulis apa pun diblog dan guru menilainya. Jadi nggak melulu di kelas membuat kerangka karangan dengan suatu tema lalu mengarang indah dengan panjang karangan maksimal dua halaman folio. Hehe…pengalaman masa lalu banget ya?
Sayangnya belum ada penelitian yang mengemukakan tentang hal ini: sejauh mana peranan situs-situs pertemanan dan blog meningkatkan minat baca/kemampuan menulis/menambah kosa kata/atau yang lainnnya. Mungkin para peneliti bisa terilhami setelah membaca ocehan saya ini (idih PD banget ya bakalan ada yang baca? =p)
Sebagai orang awam, menurut saya hal ini patut dicoba. Anak-anak di Indonesia memang belum gila computer apalagi gila internet. Padahal kemajuan zaman tak terlepas dari teknologi dan merekalah yang akan menjadi penerus pembangun negeri ini.
Coba saja kita tengok Pulau Jawa. Silakan hitung lebih banyak mana anak-anak usia sekolah yang melek komputer dan internet dengan yang buta komputer dan internet. Saya bukan peneliti jadinya tidak pernah tahu angkanya. Tapi dari beberapa obrolan yang saya comot sana sini, cukup memprihatinkan.
Salah satu keponakan dari seorang kawan saya salah satunya. Ia mengunjungi kawan saya yang dipanggilnya ”om” itu. Ia sangat takut sewaktu diminta duduk di depan komputer. Saat itu kawan saya sengaja mengajaknya duduk bersama di depan komputer dan bermaksud mengajarinya. Tak disangka, ia takut mengetikkan jari-jarinya di tuts keyboard ataupun memegang mouse. Tentu saja, ia juga segan terhadap omnya. Mungkin ia merasa malu karena di usianya yang ke 14 tahun ia belum akrab dengan komputer.
Kawanku meminta anaknya yang baru berusia lima tahun untuk mengajak kakaknya bermain game di komputer. Menurutnya, bermain game menyenangkan dan memudahkannya mengenal komputer. Dan tentu saja, kalau dengan anak kecil, dia tidak canggung. Kawanku meminta keponakannya untuk sering bertanya pada anaknya. “De, kakak mau ngetes ade maen game nih” tujuannya biar keponakannya tidak tengsin dengan adik sepupunya sendiri. Meski awalnya lambat tapi cara seperti ini lumayan efektif untuk memperkenalkan anak dengan komputer.
Miris mendengarnya. Keponakan kawanku itu bukan datang dari pulau kecil di tengah samudera yang sulit dijangkau alat transportasi. Ia berada hanya puluhan kilometer saja dari pusat ibu kota.
Sewaktu masih aktif mewawancarai orang dahulu, saya sempat ngobrol (bukan berarti mereka boleh mengambil Ambalat lo.. enak aja!!) dengan Ibu Sumarlin. Ia bercerita tentang negara tetangga, Malaysia . Ia mengacungkan jempol untuk Mahatir Muhammad yang semasa pemerintahannya berhasil mengomputerkan masyarakat Malaysia dari yang kaya sampai yang miskin. Caranya mudah. Ia mengeluarkan kebijakan untuk mencairkan dana asuransi warga negara yang ingin membeli komputer. Kebijakan ini hanya berlaku satu tahun. Berbondong-bondonglah orang membeli komputer. Daripada uang asuransi tidak cair, mendingan dibelikan komputer, iya kan? Hasilnya, warga Malaysia belajar mengoperasikan komputer dan berkenalan dengan internet. Mereka tidak canggung lagi saat di level dunia komputer dan internet sudah bukan merupakan barang mewah melainkan barang wajib bagi mereka yang tak ingin tergerus zaman.
Menurut saya, kebijakan praktis seperti ini perlu dilakukan juga di Indonesia. Mungkin caranya tidak sama, tapi setidaknya langsung menuju sasaran. Mungkin bisa melalui subsidi. Jadi masyarakat berdaya beli rendah bisa membeli komputer dengan harga murah. Pemerintah juga sepantasnya memberikan tarif murah berinternet. Ini juga salah satu upaya mencerdaskan bangsa, saya rasa.
Menulis seperti hal yang mudah, tapi begitu dicoba, wah putar-putar Jakarta, Ancol, Monas tuh otak kita (maksudku, bagi yang tidak terbiasa menuangkan isi kepalanya dengan cara menulis). Sampai sekarang juga aku masih seperti itu. Rasanya menuangkan isi kepala dalam bentuk tulisan seperti membuat peta ke rumah semut lalu menggambarkan isi di dalam rumah itu. (Lebay pisan nya?)
Tapi itulah yang aku rasakan saat ini. Isi kepala tidak melulu berakhir dengan artikel, cerpen, puisi. Bisa saja berupa ocehan seperti yang aku lakukan saat ini. Seandainya ada pakar bahasa yang mengatakan, ocehan ini bukan karya, ya jangan marah. Ini memang ngoceh dibantu jari. Hihi...
Tapi memang, menulis akan jauh lebih baik jika penulis kaya kosa kata. Tidak monoton. Tentunya, resep utama rajin membaca. Dua hal: baca tulis. Kegiatan utama yang diperkenalkan semasa TK atau SD kelas 1 dulu rupanya memang berdampak luas sampai tua. Dua keterampilan dasar yang bisa melahirkan orang-orang luar biasa. Sebagian besar dari mereka karena senang membaca dan atau rajin menuangkan isi kepalanya lewat tulisan, entah itu untuk dikonsumsi sendiri ataupun untuk dipublikasikan.
Kalau boleh berpendapat bebas (boleh dong ya...) sekarang ini orang jadi lebih mudah mengaktualisasikan diri lewat karya tulisnya, apapun bentuknya. Berbagai blog adalah sarana yang baik untuk itu. Guru bahasa di sekolah-sekolah harusnya bisa menjadikan perkembangan teknologi dan kemasyarakatan ini untuk menilai anak didiknya. Ya biarkan mereka berkembang sesuai zamannya. (Walah gaya pisan...). Biarkan mereka menulis apa pun diblog dan guru menilainya. Jadi nggak melulu di kelas membuat kerangka karangan dengan suatu tema lalu mengarang indah dengan panjang karangan maksimal dua halaman folio. Hehe…pengalaman masa lalu banget ya?
Sayangnya belum ada penelitian yang mengemukakan tentang hal ini: sejauh mana peranan situs-situs pertemanan dan blog meningkatkan minat baca/kemampuan menulis/menambah kosa kata/atau yang lainnnya. Mungkin para peneliti bisa terilhami setelah membaca ocehan saya ini (idih PD banget ya bakalan ada yang baca? =p)
Sebagai orang awam, menurut saya hal ini patut dicoba. Anak-anak di Indonesia memang belum gila computer apalagi gila internet. Padahal kemajuan zaman tak terlepas dari teknologi dan merekalah yang akan menjadi penerus pembangun negeri ini.
Coba saja kita tengok Pulau Jawa. Silakan hitung lebih banyak mana anak-anak usia sekolah yang melek komputer dan internet dengan yang buta komputer dan internet. Saya bukan peneliti jadinya tidak pernah tahu angkanya. Tapi dari beberapa obrolan yang saya comot sana sini, cukup memprihatinkan.
Salah satu keponakan dari seorang kawan saya salah satunya. Ia mengunjungi kawan saya yang dipanggilnya ”om” itu. Ia sangat takut sewaktu diminta duduk di depan komputer. Saat itu kawan saya sengaja mengajaknya duduk bersama di depan komputer dan bermaksud mengajarinya. Tak disangka, ia takut mengetikkan jari-jarinya di tuts keyboard ataupun memegang mouse. Tentu saja, ia juga segan terhadap omnya. Mungkin ia merasa malu karena di usianya yang ke 14 tahun ia belum akrab dengan komputer.
Kawanku meminta anaknya yang baru berusia lima tahun untuk mengajak kakaknya bermain game di komputer. Menurutnya, bermain game menyenangkan dan memudahkannya mengenal komputer. Dan tentu saja, kalau dengan anak kecil, dia tidak canggung. Kawanku meminta keponakannya untuk sering bertanya pada anaknya. “De, kakak mau ngetes ade maen game nih” tujuannya biar keponakannya tidak tengsin dengan adik sepupunya sendiri. Meski awalnya lambat tapi cara seperti ini lumayan efektif untuk memperkenalkan anak dengan komputer.
Miris mendengarnya. Keponakan kawanku itu bukan datang dari pulau kecil di tengah samudera yang sulit dijangkau alat transportasi. Ia berada hanya puluhan kilometer saja dari pusat ibu kota.
Sewaktu masih aktif mewawancarai orang dahulu, saya sempat ngobrol (bukan berarti mereka boleh mengambil Ambalat lo.. enak aja!!) dengan Ibu Sumarlin. Ia bercerita tentang negara tetangga, Malaysia . Ia mengacungkan jempol untuk Mahatir Muhammad yang semasa pemerintahannya berhasil mengomputerkan masyarakat Malaysia dari yang kaya sampai yang miskin. Caranya mudah. Ia mengeluarkan kebijakan untuk mencairkan dana asuransi warga negara yang ingin membeli komputer. Kebijakan ini hanya berlaku satu tahun. Berbondong-bondonglah orang membeli komputer. Daripada uang asuransi tidak cair, mendingan dibelikan komputer, iya kan? Hasilnya, warga Malaysia belajar mengoperasikan komputer dan berkenalan dengan internet. Mereka tidak canggung lagi saat di level dunia komputer dan internet sudah bukan merupakan barang mewah melainkan barang wajib bagi mereka yang tak ingin tergerus zaman.
Menurut saya, kebijakan praktis seperti ini perlu dilakukan juga di Indonesia. Mungkin caranya tidak sama, tapi setidaknya langsung menuju sasaran. Mungkin bisa melalui subsidi. Jadi masyarakat berdaya beli rendah bisa membeli komputer dengan harga murah. Pemerintah juga sepantasnya memberikan tarif murah berinternet. Ini juga salah satu upaya mencerdaskan bangsa, saya rasa.
Langganan:
Postingan (Atom)