Pertama kali ke Jakarta tahun 2005, permasalahan utama saya (selain udara yang panas) adalah
air. Kondisi
air tanahnya menyedihkan. Di kos-kosan saya membungkus keran dengan kain. Tak perlu menunggu sampai sebulan, kain itu sudah menghitam. Padahal saya tinggal di wilayah Jakarta Selatan yang konon kondisi
air tanahnya lebih baik dibandingkan wilayah Jakarta lainnya. Ketika saya pindah ke rumah mertua di wilayah Jakarta Pusat, kondisinya lebih memprihatinkan. Kain pembungkus keran lebih cepat dua kali menghitam.
Buat saya, hal itu mengerikan. Bayangkan saja saya berasal dari daerah pegunungan di Jawa Barat. Tak perlu keran dibebat layaknya lutut terluka hanya untuk mendapatkan
air bersih (dulu, ya bukan sekarang).
Air mengalir dengan jernihnya. Kalaupun bermasalah, biasanya lantaran ketidaklancaran distribusi. Di Bandung kami menggunakan jasa PAM sebagai penyedia
air bersih.
Jangan harap kami di Jakarta mengupayakan hal serupa. Di sini penyediaan
air bersih oleh PAM tidak bisa diandalkan. Selain distribusi yang tak lancar, kualitas
air bersihnya bisa dibilang nol besar.
Airnya tak layak pakai. Paling hanya untuk mandi dan mencuci.
Ipar saya yang tinggalnya berbeda kecamatan sampai menyerah dengan PAM. Kemarin dia akhirnya memasang pompa
air tanah dan mematikan
air pipanya. “Repot, seminggu
air nggak nyala. Minta terus sama tetangga, malu. Kasihan juga dianya. Waktu
air nyala juga cuma sebentar. Cuma bisa nampung di bak sama ember besar. Itu juga nyalanya jam dua malam. Begadang melulu tiap hari,” keluhnya.
Sudah lebih dari 15 tahun rumah mertua saya mencabut PAM dan menggantinya dengan pompa
air tanah bertenaga listrik.
Air tanah menjadi sumber segala kebutuhan
air dalam rumah tangga, termasuk minum. Kami menggunakan
pemurni air (water purifier) sebagai alat bantu penjernih air. Tapi jika saringan sudah menghitam, kami sendiri merasa jijik untuk mengonsumsi
airnya. Saringan kami ganti sekitar sebulan dua kali. Karena itulah, kami juga menggunakan
air dalam kemasan botol (
air galon).
Air asli pegunungan yang relatif lebih aman untuk dikonsumsi.
Untuk rumah berpenghuni empat belas jiwa, rata-rata kami membutuhkan dua botol
air kemasan per hari untuk minum (jika musim liburan sekolah bisa dua kali lipat). Bila satu botolnya seharga Rp 10.000 maka sehari kami membutuhkan Rp 20.000 hanya untuk minum. Artinya dalam sebulan dibutuhkan Rp 600.000. Angka yang fantastis ya. Jumlah yang sama juga diperlukan untuk membiayai listrik di rumah (kebutuhan tertinggi listrik adalah untuk menghidupkan AC dan pompa
air tanah).
Berdasarkan data Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta, 60 persen
air tanah di ibu kota sudah tak layak minum. Padahal, tinggal
air tanahlah sumber
air bersih yang bisa diandalkan oleh warga DKI. Sumber
air lainnya sudah tak tertolong lagi. Dari 13 sungai yang mengalir di DKI, hanya dua sungai yang menjadi hak provinsi. Sebelas lainnya diatur negara. Ironisnya, kesemua sungai berstatus tercemar berat. Hal ini menjadi alasan PAM mengenai kualitas
air yang didistribusikannya. (
bisa dilihat di sini)
Pencemaran
air tanah terbanyak dilakukan oleh manusia. Tanpa disadari pencemaran berlangsung setiap waktu melalui limbah domestik rumah tangga dan industri. Jika kegiatan pencemaran terus dilakukan tanpa ada upaya pengurangan (atau mungkin penghentian), bukan hal mustahil
air tanah pun kelak tak lagi kita punyai.
Pada umumnya
air tanah bergerak relatif lambat dibanding
air permukaan.
Air tersebut tidak banyak bercampur dengan bahan lain selama pergerakannya sehingga tidak terjadi pengenceran zat pencemar seperti pada
air permukaan (sungai, danau, dll). Namun
air tanah tidak memiliki akses terhadap udara bebas sebagaimana
air permukaan; sehingga oksidasi yang dapat memurnikan dan menetralkan racun pada
air permukaan tidak akan terjadi pada
air tanah. Karena itulah, pencemaran
air tanah pada volume dan konsentrasi yang sama relatif lebih merugikan dibanding pencemaran pada
air permukaan. (
bisa dilihat di sini)
Kondisi-kondisi seperti ini memunculkan inovasi di berbagai kalangan. Salah satunya Unilever dengan
Pureit. Masih ingat dengan percobaan IPA di masa sekolah dasar dulu? Itu lo menumpuk batu, pasir, batu bata, dan ijuk untuk menyaring air? Nah, prinsip kerja
Pureit kurang lebih seperti itu. Bedanya,
Pureit menggunakan teknologi yang lebih canggih serta menambahkan penyaring bakteri dan kuman. Jadi selain bersih, juga aman dikonsumsi secara langsung.
Pureit melakukan empat tahap penyaringan. Pertama, saringan serat mikro untuk menyaring kotoran yang kasat mata. Kedua, filter karbon aktif untuk menghilangkan pestisida dan parasit berbahaya. Ketiga, prosesor pembunuh kuman untuk menghilangkan bakteri dan virus berbahaya di dalam
air. Dan keempat, penjernih untuk menghasilkan
air bersih, jernih, tak berbau, dengan rasa alami.
Filterisasi ini menggunakan Germkill Kit yang harus diganti setiap usai memurnikan 1.500 liter
air. Uniknya, Germkill Kit ini bekerja secara otomatis. Ada indikator penunjuk kondisi Germkill Kit.
Pureit tak dapat mengalirkan
air jika Germkill Kit belum diganti dengan yang baru. Jadi,
air yang dihasilkan sudah pasti aman. Selain itu,
Pureit juga aman di kantong. Tak perlu listrik, pipa, ataupun gas. Tinggal tuang dan minum.
Inovasi sepertinya memang perlu terus diupayakan agar sumber
air lestari.
Air tanah yang digunakan warga Jakarta sudah sampai pada
air tanah dalam. Pasalnya
air tanah dangkal sudah tak lagi bisa memenuhi kebutuhan. Selain tak jernih (menurut BPLHD DKI Jakarta
air tanah dangkal Jakarta sudah tercemar), kuantitasnya pun tak memadai. Hal ini dikarenakan daerah penyimpan
air tanah sudah gundul.
Gunung Gede Pangrango dan Halimun Salak di Bogor, Jawa Barat adalah hutan penyimpangan cadangan
air tanah bagi Jakarta. Tapi saat ini keduanya sudah beralih fungsi menjadi kebun sayur. Akibatnya
air tak terserap dengan baik ke dalam tanah.
Air memang mengalir ke Jakarta namun di permukaan tanah. Bukan sebagai sumber
air bersih melainkan
air bah. Hal ini diperburuk dengan daerah resapan air di Jakarta yang sangat minim.
Jika diibaratkan kue berlapis, secara umum tanah di bawah kita berpijak memiliki dua lapisan cairan di antara lapisan-lapisan tanah. Satu lapisan cairan dangkal dan satu lagi lapisan cairan dalam. Tebalnya lapisan cairan dangkal lebih tipis dari lapisan cairan dalam. Nah, lapisan cairan dangkal saat ini ketebalannya sudah sangat tipis. Karena sifat cairan adalah mengisi rongga, maka saat cairan tersebut berkurang akan meninggalkan rongga yang menganga. Sementara sifat benda padat (dalam hal ini tanah) membutuhkan penyangga untuk menopang. Manakala cairan di bawahnya berkurang dan meninggalkan rongga, ia akan mendesak ke dasar rongga untuk mencari sanggaan. Itulah mengapa permukaan tanah di Jakarta lama-kelamaan melesak turun.
Saya memang bukan ilmuwan yang bisa melahirkan pemikiran atau inovasi cara mendapatkan/mengelola
air bersih. Namun setidaknya saya bisa mengajak untuk hemat dan bijak menggunakan
air bersih dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika mandi dan berkakus kita bisa mengukur kebutuhan. Kita sudah sering mandi dan tahu berapa banyak kebutuhan kita (bukan keinginan lo). Tak perlulah berlama-lama dan berbanyak-banyak menggunakan
air. Teknik mandi yang efektif dapat memaksimalkan penggunaan
air bersih. Begitu juga dengan menggosok gigi. Tak perlu
air sampai bergayung-gayung. Kita bisa memaksimalkan segelas
air bersih untuk membersihkan gigi dan berkumur.
Yang sering diabaikan adalah menampung
air wudhu.
Air tampungan tergolong bersih (asalkan
air bekas kumur dan membersihkan hidung tidak ikut ditampung). Kita bisa memanfaatkannya untuk membersihkan kendaraan, menyiram tanaman, mengepel lantai, membersihkan jendela, mencuci sepatu dan sandal, atau mencuci keset.
Barangkali sederhana dan tampak kecil. Tapi jika setiap rumah tangga melakukannya, ini bisa jadi hal besar. Kita bisa mewariskan
air bersih bagi generasi-generasi mendatang agar mereka bisa hidup lebih baik. Kualitas ke
sehatan mereka kita tentukan dari sekarang.