Senin, 13 Mei 2013

Cerita di Balik Derita

Siapa sih yang ga kalut menghadapi anak sakit? Saya sudah pasti karena saya tergolong panikan. Kalau anak sakit, biasanya saya berusaha menenang-nenangkan diri. Memberi tahu diri sendiri jika anak saya baik-baik saja, tak mengalami sakit yang berat.

Sampai saat ini, sudah dua kali anak saya dirawat inap di rumah sakit. Pertama saat berusia 23 bulan (masih ngASI) dan kedua usia 38 bulan (sudah nyapih). Semoga tidak ada lagi "jajan" ke rumah sakit macam ini.

Saya tidak akan bercerita tentang masa sedih, galau, risau menghadapi anak sakit. Kurang lebih sama lah dengan rasa yang dialami banyak orang. Saya justru akan membagikan masa menyenangkan selama anak saya sakit. Benar, ada hal lucu yang membuat saya tertawa selama ia dirawat di rumah sakit.

Dua kali dirawat inap, dua kali pula ruangan tempat Faiz menginap penuh dwngan nyanyian. Saat pertama kali dirawat di rumah sakit di Bandung, lagu favorit Faiz adalah "Bintang Gede". Ini bukan lagu baru atau lagu ciptaan siapa-siapa. Ini adalah lagu yang liriknya sedikit diubah. Kata "kecil", "biru", dan "banyak" dalam lagu "Bintang Kecil" ciptaan Daljono diganti dengan kata "gede". Jadinya;
bintang gede di langit yang gede
amat gede menghias angkasa
aku ingin terbang dan menari
jauh tinggi ke tempat kau berada.

Pasien yang ada di seberang kami senyum-senyum tiap kali saya bernyanyi. Entah menertawakan liriknya yang ajaib atau suara penyanyinya yang aduhai :-P. Oiya, saat itu Faiz enggan bernyanyi tapi meminta ibunya menyanyikan lagu kesukaannya itu. Demi anak, apa sih yang nggak meski harus menahan malu. Hahaha...

Nah kali kedua jadi pasien rawat inap di Jakarta, Faizlah yang bernyanyi. Berulang-ulang ia menyanyikan lagu "Tik Tik Bunyi Hujan" ciptaan Ibu Sud dengan suara lantang. Tiga ibu pendamping pasien lain di ruangan yang sama sibuk menyuarakan "sssttttt". Maklum karena Faiz bernyanyi di tengah malam saat pasien lain beristirahat. Ketika itu, ia rajin bernyanyi kala matanya masih melek. Sampai-sampai seorang perawat bertanya.
"Ade pinter nyanyinya. Udah sekolah sih ya?"
"Belum." Jawab saya.
"PAUD, gitu?"
"Belum."
"Oh.."kata dia dengan wajah yang tampak bingung.

Sepulang dari rumah sakit, Faiz jadi punya kebiasaan baru. Dia minta makan nasi putih tanpa lauk apapun walau hanya secuil abon bahkan garam. Nasi putih saja. Dan saya sadari sekarang kalau dia merasa tak enak badan, menunya pun sama; nasi putih tok seperti beberapa hari lalu saat ia masuk angin. Lauk yang disertakan dalam piring utuh tak tersentuh. Konsumsi susunya pun berkurang drastis. Ia hanya minum air putih. Oh ya selama ini Faiz hanya menyukai dua jenis air saja; susu dan air putih.

Entah mengapa Faiz mutih begitu. Padahal selama sakit, ya saya tak berubah tetap menawarkan dan menjejali dia dengan beragam makanan seperti keadaan normal.

Barangkali itu cara dia menetralisasi tubuhnya. Bukankah orang-orang yang suka mutih untuk keperluan tertentu tujuannya untuk netralisasi diri? Faiz mungkin merasakan enak di badan usai memakan nasi putih dan minum air putih saja. Hanya saja saya heran karena di rumah nggak ada yang suka mutih untuk kepentingan apapun. Anakku cerdas ya tahu kebutuhan tubuhnya sendiri ;-)

Jumat, 19 April 2013

Ibuku Rangking Satu

Selembar sobekan buku tulis menyembul di bawah televisi. Kuambil dan kubaca. Tak terasa bibir ini menyungging.  

Bahasa Inggris
Mangkok=bowl
Bafelo=banteng
Danau Tempe ada di Sulawesi.  

Tulisan tangan dengan tinta pulpen warna hitam dan biru. Campur aduk tak rapi di sana. Terlihat jelas ditulis dengan tergesa-gesa. Di beberapa bagian ada yang tintanya buram. Pulpen murah tintanya tak pernah lancar.  

"Ibu belajar Bahasa Inggris?" tanyaku pada ibu yang sedang memotong sayuran di sebelahku. Ibu tersenyum malu seraya melihat kertas di tanganku.
"Nggak. Itu mah Rangking Satu," jawabnya. Aku ikut tersenyum.
"Bagus, Bu."  

Aku tahu bila ibu adalah fans acara kuis Rangking Satu di Trans TV. Saban pagi bila aku berkunjung ke rumah orang tuaku di Bandung, ibu stand by mengikuti acara berpeserta puluhan orang itu. Ruben Onsu dan Sarah Sechan bergantian memberi pertanyaan. Sogi Indra Duaja dan Pak Tarno menjadi pendamping di sesi praktikum.  

Ibu saya memang bukan orang yang makan bangku sekolahan. Tercatat hanya punya satu ijazah; ijazah sekolah dasar. Maka tak usah heran bila melihat tulisan tangannya yang tak rapi. Tak usah tertawa bila salah mengeja huruf apalagi untuk merangkai kata dalam bahasa asing. Itu saja sudah baik karena mengandalkan mulut Ruben dan Sarah. Seorang kawan yang konon bisa membaca aura mengatakan, salah satu titik terkuat ibu saya adalah kemauannya untuk belajar.  

Saat itu saya mengiyakan. Ibu memang sedang senang belajar ilmu agama. Ia mengikuti beberapa kelompok belajar mengaji kitab suci. Dari mulai belajar mengaji indah (qiraat), tafsir, fiqih, memandikan jenazah, sampai belajar berbicara di muka umum. Ibu saya tak punya target apapun untuk menjadi apapun. "Suatu saat mungkin diperlukan." Begitu katanya selalu.  

Perlahan majelis yang diikutinya berkurang sampai akhirnya hanya majelis ilmu di masjid sekitar rumah saja yang masih rutin ia hadiri. Majelis di masjid raya sudah berhenti. Kondisi rumah tangga yang berbeda membuatnya harus mau berhenti berlari.  

Tapi rupanya semangat ibu tak pernah pudar. Dahaga ilmunya luar biasa. Fasilitas yang tersedia jadi sasarannya. Ibu tak paham mengoperasikan komputer maka televisilah  yang jadi teman baiknya. Sambil beraktivitas di dapur atau mencuci pakaian di sepetak tempat cuci, ibu menyalakan televisi. Tausiyah Ustadz Yusuf Mansur dan Mamah Dedeh (ditayangkan di dua stasiun televisi secara beriringan) menemani pagi harinya usai mengaji dan solat subuh. Setelah itu ibu akan senam pagi di lapangan kecamatan atau puskesmas barulah menonton acara kuis Rangking Satu sepulang berolah raga.  

Kubalik sepotong kertas itu. Ada beberapa catatan ayat kitab suci di sana. Surat dan ayat yang mengacu pada tema tertentu. Ibu pasti menuliskannya bila tidak sambil mencuci atau memasak.   Kukembalikan kertas itu ke tempatnya semula. Ibu tak kuminta menuliskannya lagi di buku tulis khusus. Sepertinya aku tahu mengapa catatanku dulu semasa sekolah selalu tak rapi. Seperti ibu, catatanku kutulis ala kadarnya Dan kadang tak jelas urutannya.  Tapi dengan susunan yang acakadul itu justru lebih aku ingat isinya.  

Aku harap aku bisa seperti ibu. Punya semangat tinggi untuk belajar dan menitinya meski sudah usia senja. Semangat adalah bibit utama dalam kehidupan. Ia tak boleh sampai mati. Karena jika ia mati, hidup tak berarti.  

I love you, Ibu Atisah... Ibu pantas ranking satu.

Kamis, 14 Februari 2013

ke man

Sudah beberapa hari ini rasanya ga semangat. Ke mana dia pergi? Mengaa tidak pamit? Wahai semangat, segeralah kembali. Aku rindu. Sangat rindu

Sabtu, 22 Desember 2012

Mewariskan Air Bersih dan Sehat

Pertama kali ke Jakarta tahun 2005, permasalahan utama saya (selain udara yang panas) adalah air. Kondisi air tanahnya menyedihkan. Di kos-kosan saya membungkus keran dengan kain. Tak perlu menunggu sampai sebulan, kain itu sudah menghitam. Padahal saya tinggal di wilayah Jakarta Selatan yang konon kondisi air tanahnya lebih baik dibandingkan wilayah Jakarta lainnya. Ketika saya pindah ke rumah mertua di wilayah Jakarta Pusat, kondisinya lebih memprihatinkan. Kain pembungkus keran lebih cepat dua kali menghitam.

Buat saya, hal itu mengerikan. Bayangkan saja saya berasal dari daerah pegunungan di Jawa Barat. Tak perlu keran dibebat layaknya lutut terluka hanya untuk mendapatkan air bersih (dulu, ya bukan sekarang). Air mengalir dengan jernihnya. Kalaupun bermasalah, biasanya lantaran ketidaklancaran distribusi. Di Bandung kami menggunakan jasa PAM sebagai penyedia air bersih.

Jangan harap kami di Jakarta mengupayakan hal serupa. Di sini penyediaan air bersih oleh PAM tidak bisa diandalkan. Selain distribusi yang tak lancar, kualitas air bersihnya bisa dibilang nol besar. Airnya tak layak pakai. Paling hanya untuk mandi dan mencuci.

Ipar saya yang tinggalnya berbeda kecamatan sampai menyerah dengan PAM. Kemarin dia akhirnya memasang pompa air tanah dan mematikan air pipanya. “Repot, seminggu air nggak nyala. Minta terus sama tetangga, malu. Kasihan juga dianya. Waktu air nyala juga cuma sebentar. Cuma bisa nampung di bak sama ember besar. Itu juga nyalanya jam dua malam. Begadang melulu tiap hari,” keluhnya.

Sudah lebih dari 15 tahun rumah mertua saya mencabut PAM dan menggantinya dengan pompa air tanah bertenaga listrik. Air tanah menjadi sumber segala kebutuhan air dalam rumah tangga, termasuk minum. Kami menggunakan pemurni air (water purifier) sebagai alat bantu penjernih air. Tapi jika saringan sudah menghitam, kami sendiri merasa jijik untuk mengonsumsi airnya. Saringan kami ganti sekitar sebulan dua kali. Karena itulah, kami juga menggunakan air dalam kemasan botol (air galon). Air asli pegunungan yang relatif lebih aman untuk dikonsumsi.


Untuk rumah berpenghuni empat belas jiwa, rata-rata kami membutuhkan dua botol air kemasan per hari untuk minum (jika musim liburan sekolah bisa dua kali lipat). Bila satu botolnya seharga Rp 10.000 maka sehari kami membutuhkan Rp 20.000 hanya untuk minum. Artinya dalam sebulan dibutuhkan Rp 600.000. Angka yang fantastis ya. Jumlah yang sama juga diperlukan untuk membiayai listrik di rumah (kebutuhan tertinggi listrik adalah untuk menghidupkan AC dan pompa air tanah).

Berdasarkan data Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta, 60 persen air tanah di ibu kota sudah tak layak minum. Padahal, tinggal air tanahlah sumber air bersih yang bisa diandalkan oleh warga DKI. Sumber air lainnya sudah tak tertolong lagi. Dari 13 sungai yang mengalir di DKI, hanya dua sungai yang menjadi hak provinsi. Sebelas lainnya diatur negara. Ironisnya, kesemua sungai berstatus tercemar berat. Hal ini menjadi alasan PAM mengenai kualitas air yang didistribusikannya. (bisa dilihat di sini)

Pencemaran air tanah terbanyak dilakukan oleh manusia. Tanpa disadari pencemaran berlangsung setiap waktu melalui limbah domestik rumah tangga dan industri. Jika kegiatan pencemaran terus dilakukan tanpa ada upaya pengurangan (atau mungkin penghentian), bukan hal mustahil air tanah pun kelak tak lagi kita punyai.

Pada umumnya air tanah bergerak relatif lambat dibanding air permukaan. Air tersebut tidak banyak bercampur dengan bahan lain selama pergerakannya sehingga tidak terjadi pengenceran zat pencemar seperti pada air permukaan (sungai, danau, dll). Namun air tanah tidak memiliki akses terhadap udara bebas sebagaimana air permukaan; sehingga oksidasi yang dapat memurnikan dan menetralkan racun pada air permukaan tidak akan terjadi pada air tanah. Karena itulah, pencemaran air tanah pada volume dan konsentrasi yang sama relatif lebih merugikan dibanding pencemaran pada air permukaan. (bisa dilihat di sini)


Kondisi-kondisi seperti ini memunculkan inovasi di berbagai kalangan. Salah satunya Unilever dengan Pureit. Masih ingat dengan percobaan IPA di masa sekolah dasar dulu? Itu lo menumpuk batu, pasir, batu bata, dan ijuk untuk menyaring air? Nah, prinsip kerja Pureit kurang lebih seperti itu. Bedanya, Pureit menggunakan teknologi yang lebih canggih serta menambahkan penyaring bakteri dan kuman. Jadi selain bersih, juga aman dikonsumsi secara langsung.

Pureit melakukan empat tahap penyaringan. Pertama, saringan serat mikro untuk menyaring kotoran yang kasat mata. Kedua, filter karbon aktif untuk menghilangkan pestisida dan parasit berbahaya. Ketiga, prosesor pembunuh kuman untuk menghilangkan bakteri dan virus berbahaya di dalam air. Dan keempat, penjernih untuk menghasilkan air bersih, jernih, tak berbau, dengan rasa alami.

Filterisasi ini menggunakan Germkill Kit yang harus diganti setiap usai memurnikan 1.500 liter air. Uniknya, Germkill Kit ini bekerja secara otomatis. Ada indikator penunjuk kondisi Germkill Kit. Pureit tak dapat mengalirkan air jika Germkill Kit belum diganti dengan yang baru. Jadi, air yang dihasilkan sudah pasti aman. Selain itu, Pureit juga aman di kantong. Tak perlu listrik, pipa, ataupun gas. Tinggal tuang dan minum.

Inovasi sepertinya memang perlu terus diupayakan agar sumber air lestari. Air tanah yang digunakan warga Jakarta sudah sampai pada air tanah dalam. Pasalnya air tanah dangkal sudah tak lagi bisa memenuhi kebutuhan. Selain tak jernih (menurut BPLHD DKI Jakarta air tanah dangkal Jakarta sudah tercemar), kuantitasnya pun tak memadai. Hal ini dikarenakan daerah penyimpan air tanah sudah gundul.

Gunung Gede Pangrango dan Halimun Salak di Bogor, Jawa Barat adalah hutan penyimpangan cadangan air tanah bagi Jakarta. Tapi saat ini keduanya sudah beralih fungsi menjadi kebun sayur. Akibatnya air tak terserap dengan baik ke dalam tanah. Air memang mengalir ke Jakarta namun di permukaan tanah. Bukan sebagai sumber air bersih melainkan air bah. Hal ini diperburuk dengan daerah resapan air di Jakarta yang sangat minim.

Jika diibaratkan kue berlapis, secara umum tanah di bawah kita berpijak memiliki dua lapisan cairan di antara lapisan-lapisan tanah. Satu lapisan cairan dangkal dan satu lagi lapisan cairan dalam. Tebalnya lapisan cairan dangkal lebih tipis dari lapisan cairan dalam. Nah, lapisan cairan dangkal saat ini ketebalannya sudah sangat tipis. Karena sifat cairan adalah mengisi rongga, maka saat cairan tersebut berkurang akan meninggalkan rongga yang menganga. Sementara sifat benda padat (dalam hal ini tanah) membutuhkan penyangga untuk menopang. Manakala cairan di bawahnya berkurang dan meninggalkan rongga, ia akan mendesak ke dasar rongga untuk mencari sanggaan. Itulah mengapa permukaan tanah di Jakarta lama-kelamaan melesak turun.

Saya memang bukan ilmuwan yang bisa melahirkan pemikiran atau inovasi cara mendapatkan/mengelola air bersih. Namun setidaknya saya bisa mengajak untuk hemat dan bijak menggunakan air bersih dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika mandi dan berkakus kita bisa mengukur kebutuhan. Kita sudah sering mandi dan tahu berapa banyak kebutuhan kita (bukan keinginan lo). Tak perlulah berlama-lama dan berbanyak-banyak menggunakan air. Teknik mandi yang efektif dapat memaksimalkan penggunaan air bersih. Begitu juga dengan menggosok gigi. Tak perlu air sampai bergayung-gayung. Kita bisa memaksimalkan segelas air bersih untuk membersihkan gigi dan berkumur.

Yang sering diabaikan adalah menampung air wudhu. Air tampungan tergolong bersih (asalkan air bekas kumur dan membersihkan hidung tidak ikut ditampung). Kita bisa memanfaatkannya untuk membersihkan kendaraan, menyiram tanaman, mengepel lantai, membersihkan jendela, mencuci sepatu dan sandal, atau mencuci keset.

Barangkali sederhana dan tampak kecil. Tapi jika setiap rumah tangga melakukannya, ini bisa jadi hal besar. Kita bisa mewariskan air bersih bagi generasi-generasi mendatang agar mereka bisa hidup lebih baik. Kualitas kesehatan mereka kita tentukan dari sekarang.

Senin, 03 Desember 2012

Faiz Membaca Koran

Koran memang menarik perhatian Faiz (2 tahun 10 bulan). Bukan untuk dibaca melainkan untuk dikomentari. Tentu saja gambarnya, bukan beritanya :)

Halaman olah raga menampilkan gambar atlet tengah berenang. Sambil menunjuk, ia berkata "Orangnya kecebur." Tak lama oma keluar dari kamar mandi usai membersihkan diri. Ia pun berkata, "Oma juga kecebur."

Halaman berikut memperlihatkan atlet sepakbola berlatih. Faiz berkomentar, "Orangnya main bola ga jatuh. Faiz main bola jatuh."
FYI: kebiasaan Faiz setelah menendang bola, terkadang ia menelungkupkan diri di lantai dan menyatakan ia jatuh. Ini meniru pemain sepakkbola saat bertanding di lapangan.

Lalu ia menunjuk sebuah gambar siluet perempuan berambut panjang. Faiz berseru, "Orangnya ga ada matanya!"

Di sebelahnya ada gambar seorang anak perempuan dan ada pula gambar alat suntik. Itu adalah ilustrasi artikel tentang hepatitis. Faiz kembali berseru, "Kakaknya bentol, dicubit."

Ocehan berlanjut. "Ibunya jatuh!" kata dia saat melihat gambar atlet perempuan sedang berlatih bela diri. Posisinya ada di bawah seperti terjatuh.

Kemudian ada gambar atlet sepak bola lainnya. (hm...porsi berita sepak bola di negeri ini sangat banyak ya ketimbang cabang olah raga lain :D) "Bajunya, celananya hijau. Kaus kakinya hijau. Bolanya putih," seru Faiz sambil menunjuk-nunjuk barang yang disebut.

Dan sampailah pada sebuah foto atlet catur Indonesia. Saya lupa namanya yang jelas dia seorang wanita.
"Ibunya ngapain tuh?" tanyanya padaku.
"Main catur."
"Main catur? Ngapain main catur?"

Hadeuh...

Rabu, 07 November 2012

Kumpulan Celoteh Faiz 2012


Monolog

Semut, semut.. Kau di mana? Faiz ke belakang dulu ya.. (sewaktu menemukan semut di tembok tapi ia hendak buang air)

Sepertinya ada yang rusak. Rodanya sepertinya rusak. (main sepeda nubruk tembok)

Faiz pilih yang mana ya? Bingung nih Faiznya. (Faiz membuka kotak mainannya)

Ibu, di mana kau, ibu? Jimjamnya udah selesai. (ibu sedang mencuci dan hanya membolehkan Faiz nonton satu film lagi)

Ibu, mobilnya berdarah! (mobil mainan berwarna putih bergaris merah)

Ibu, ada ondel-ondel! (sewaktu melihat mempelai perempuan pengantin Cipanas keluar menuju kursi akad nikah)

Ibu, pa ogah! (menunjukkan bantal bergambar angry bird)

Ibu, dipoto! (saat wajahnya diterpa semburat cahaya matahari sore dari jendela)


Dialog

+Ibu, ini caladine apa?
-Caladine cair.
+Oh, caladine cair ya. Kirain caladine lotion.

-Faiz sedang apa?
*sisiran*
-Oh sedang sisiran. Emang Faiz punya rambut?
+Punya, tapi botak.

=Eh, ada ade..(disapa tantenya)
+Ade..namanya Faiz

+Ibu, ini apa? (menyodorkan telunjuk tangan kanan ke arah ibu)
-Ini telunjuk.
+Bukan, ini ibu.

=Ini siapa? (menunjuk dada Faiz)
+Ini Faiz.
=Kalau ini siapa? (menunjuk video anak di youtube)
+Ini teman Faiz
=Teman Faiz siapa namanya?
+Namanya...m...adzan!

-Abah, ini anaknya ingin main sama abah! (teriak ibu pada abah di atas tangga)
+Abah, ini anaknya mau turun.

=Faiz, ayo masuk!
+Ih, orang dianya mau jalan-jalan ke luar, Opa!

+Aduh! (terlindas sepeda roda tiganya sendiri)
-Kenapa?
+Faiz ga bisa juara satu lagi nih!
-Lo kok ga bisa?
+Mogok nih sepedanya!

+Ibu, kenapa ini? (nunjuk lututnya)
-Oh, itu motif garis-garis jok kursi. Itu karena Faiz kelamaan berlutut jadi ngejiplak di kulit.
+Nanti deh diurut sama Nenek Bibah.

+Ibu bajunya sobek. (menunjuk daster ibu yang bolong :p)
-Iya, ga apa-apa.
+Ibu bajunya kenapa ada sobeknya?
-Bajunya udah lama.
+Udah ga bisa dipake lagi bajunya?
-Masih bisa dipake.
+Ga bisa dipake tidur bajunya?
-Masih bisa dipake tidur. Udah, sekarang Faiznya tidur.
+Ibu jangan berisik ya! Mungkin yang lain tidur.

+Ibu, ini tembok besar (menunjuk tembok).
(Ibu mengangguk)
+Ibu ko ga nanya Faiz?
-Nanya apa?
+Ini, tembok.
-Oh. Itu tembok apa ya?
+Ini tembok besar.

(Al Fatihah Jilid 1)
+Yuk baca doa mau bobo. Bismika..
-Alloumaayawabimikaamut.
+Aamiin. Sekarang ditambah ya. Bismillah..
-iwohmaniwoim.
+Alhamdu..
-iahiwohmaniwoim..
+Arrohmaan..
-iwoim..
+Maalik..
-Muammad (Muhammad) Faiz
+Bukan. Ini Al Fatihah jadi Maalikiyaumiddiin..
-Bukan. Malik muammad faiz..

(Alfatihah jilid 2)
Faiz hendak minum susu.
-Ayo sini tusuk dulu (sedotannya). Bismillaahirrahmaanirrrahiiim.
+Malikiaumiddin. Iyyakanabuduwaiyyaka. Ihdina.

(Faiz urut-urut tangan ibu sambil cocol-cocol minyak telon)
+Enak ya diurut, ibu?
-Iya, enak nih ibu diurut Faiz.
+Pake minyak biar perut ibu ga panas.
-???

=Eh, lempar-lempar barang! Sentil nih! Nih! (pura-pura sentil punggung tangan kanan Faiz)
+Satu lagi, Wo! (Nyodorin tangan kirinya)
(serasa pijat refleksi)

+Ibu lagi apa?
-Ibu lagi siapin baju Faiz.
+Baju apa?
-Baju merah
+Mana bajunya?
-Itu.
+Bukan. Itu bukan baju merah.
-Loh, itu kan bajunya warna merah.
+Bukan, itu baju Faiz!

(Menyalakan pad untuk main game)
-Mau main yg mana?
+Owangcem.
-Ha? Oncom?
+Owang cewem , ibu!
(Catatan: orang serem adalah permainan sepak bola. Pemainnya bertangan panjang, badannya tak proporsional)
+Owangnya sakit kepala kena bola. Owangnya jatuh. Owangnya ga ada bomnya (membandingkan dgn game fruit ninja).

-Faiz lagi main apa?
+Mainan inisbuk (english book).

+Ibu, abahnya mana?
-Abahnya kerja
+Oh kirain Faiznya diajakin kerja

Senin, 10 September 2012

Giveaway Novel Cinderella Syndrome, Leyla Hana


Akhirnya ikutan juga setelah bingung milih tokoh yang mau dikembangkan :D Pilihannya jatuh pada Violet! Selamat membaca dan doakan menang ya ;)



Violet, 25 tahun, seorang penulis yang jarang keluar rumah, hingga menjadi amat manja dan tidak bisa bepergian ke mana-mana sendirian. Ia harus mengajak Wina, sahabatnya atau ibunya kalau tidak ingin tersesat. Terpikir untuk menikah supaya punya pengawal pribadi yang siap mengantarnya ke mana-mana.

Mendapatkan suami yang memahami kemanjaannya ini tentu tak mudah. Satu hari Violet mendapatkan surel dari seorang fans beratnya. Menurut orang tersebut, ia sudah menyukai tulisan-tulisan Violet sejak lama. Bahkan sebelum Violet menerbitkan buku. Katanya, artikel dan cerpen Violet sudah disukainya kala masih menjadi kontributor sebuah majalah remaja yang tak terlalu ngetop dan sudah tak terbit lagi.

Violet dan fansnya yang bernama Banyu itu kian lama menjalin komunikasi yang intens. Tapi belum satu kalipun mereka kopi darat. Semua hanya via surel dan chat (tanpa webcam karena Violet tak suka). Banyu menjadi tahu masalah Violet yang bergantung pada orang lain bila harus ke luar rumah. Maka ia pun berencana membantu menyembuhkan kebiasaan aneh Violet.

Saat itu Violet tengah melakukan riset untuk novel terbarunya. Salah satunya tentang permukiman tradisional di sebuah desa pedalaman. Banyu menyanggupi untuk membantu mendapatkan hasil riset dengan mengantarnya ke sebuah desa tempatnya dulu ber-KKN kala kuliah.

Mereka janji bertemu di sebuah terminal bis. Violet mulanya ragu tapi ia berniat membuat novel yang berbeda dari sebelumnya. Outline yang matang sudah disiapkan. Maka ia pun memberanikan diri pergi bertualang dengan orang yang belum pernah ditemuinya. Bahkan ia tak meminta ibu ataupun Wina untuk menemani. Riset kali ini memakan waktu yang cukup menyita. Tak sampai hati ia memaksa ibu atau sahabatnya mengorbankan waktu dan aktivitas harian mereka demi menemaninya bertualang.

Di terminal, Violet tak menemukan Banyu. Ia hanya mendapatkan surat yang dititipkan pada pengurus terminal. Surat itu berisi petunjuk perjalanan menuju desa yang hendak dijadikan objek riset. "Kita ketemu di sana. Aku berangkat duluan. Ada yang harus kukerjakan."

Pergi ke tempat jauh tanpa ditemani siapapun dengan berkendara umum adalah neraka bagi Violet. Segala kemungkinan buruk mengahantui dirinya. Tapi hati kecilnya menginginkan dia menuruti arahan Banyu. Ia pun nekat bertualang sendirian.

Perjalanan panjang membutuhkan beberapa kali penggantian kendaraan umum. Dua kali naik bis, satu kali naik colt, dan satu kali naik angkutan pedesaan. Ditambah ia harus jalan mendaki melalui jalan setapak. Desa tujuannya berada di atas bukit dan tak tersedia angkutan umum ke sana.

Sepanjang perjalanan Violet banyak mencatat, memotret, dan menemukan banyak ide menulis. Perlahan dia berani mengobrol dengan orang-orang yang ditemuinya. Dia tak menyesali putusannya untuk nekad.

Sesampainya di desa tujuan, Violet dikejutkan dengan kampung tradisional yang eksotik. Dia juga menemukan ibu, ayah, dan Wina di sana. Mereka hadir sebagai bagian dari kejutan Banyu.

Rupanya Banyu merangkai alur perjalanan Violet agar ia leluasa membawa ayah, ibu, dan Wina dengan kendaraan pribadi. Di kampung eksotik itu, Banyu melamar Violet. Ia bahkan mengajaknya menikah langsung saat itu juga.

Violet terpana. Ia tak menyangka mendapatkan timbunan rezeki dalam satu masa. Lamaran Banyu diterimanya. Mereka kemudian menjadi pasangan yang hobi jalan-jalan.