Selasa, 19 Oktober 2010

aku hanya mengenalmu

jangan kau sebut nama itu lagi
aku tak kenal siapa dia
aku hanya mengenalmu

Senin, 05 Juli 2010

Baru Kembali

Bingung nih baru kembali lagi buka blog...
Sebingung diri ini menghadapi masalah...
Ga nyangka aja kalau ternyata selama ini...
Hiks...
Dia sudah menghapusnya...
Tapi tak sepenuhnya menghapusnya...
Masih ada benang yang mengaitkannya...
Bukan satu...
Tapi banyak...
Mana?
Katanya mau dihapus semua apapun bentuknya...
Kalau begini ko ya rasanya percuma saja...
Hiks...Hiks...Hiks...

Jumat, 16 April 2010

Lahiran Pertama

Alhamdulillah aku sudah melahirkan. Kini aku benar-benar jadi Ibu Rima seperti namaku di blog ini ;). Luar biasa menakjubkan mendapati diri berubah status. Ada makhluk kecil yang keluar dari tubuh ini dan terus tumbuh berkembang.

Aku melahirkan pada 1 Februari 2010. Dokterku bilang, "Wah angka cantik nih Rim, 01022010". Saat itu aku tengah diperiksa dan pembukaannya tak bertambah setelah semalaman menginap di klinik. Aku hanya menjawab, "Wah boro-boro mikirin angka cantik, Dok. Pokoknya anak ini harus keluar hari ini". Maklum sudah 40 pekan. Aku khawatir jika terjadi apa-apa kalau tak segera dilahirkan. Apalagi hasil USG menyatakan anakku terlilit tali pusat dan lamban masuk ke jalan lahir.

Akhirnya dokter bertanya, "Kamu tetap mau caesar atau coba induksi? Kalau caesar, saya baru bisa malam nanti. Kalau induksi tunggu 8-12 jam sampai bukaannya sempurna".

Saat itu sekitar jam 11 siang. Kupikir kalaupun caesar, akan dilakukan malam hari. Ah, daripada menunggu malam tanpa melakukan aktivitas apapun, aku memilih induksi. Toh jika memang bisa melahirkan normal dengan induksi, tetap saja lahirnya malam. Paling tidak aku sudah berusaha melahirkan normal. Jika memang kelak harus caesar, setidaknya aku tidak penasaran.

Akhirnya aku disuruh makan dulu karena bidannya bilang, "Setelah induksi, ibu ga mungkin ingat makan". Saat itu aku berpikir, ah masa sih. Tapi aku menurut saja.

Sekitar pukul 12.30 aku disuntik induksi. Tabung berjalan itu kubawa ke mana pun kupergi. Aku diminta banyak berjalan. Boro-boro jalan. Setiap lima menit aku merasa mulas luar biasa. Karena itulah akupun dipakaikan pakaian pasien. Akupun harus mengosongkan usus supaya tidak ada kotoran yang keluar dari dubur saat mengedan.

Mulai pukul 14.30 rasa mulas menggila. Otakku tak bisa berpikir apapun selain meminta maaf dan ampun pada suami dan ibuku. Keduanya saat itu menemaniku di ruang bersalin. Alhamdulillah yang keluar dari mulutku kalimat-kalimat yang baik, bukan umpatan. Konon katanya ada yang suka menyebut-nyebut kata-kata tak pantas saat mulas.

Kurang lebih satu jam setengah dari mulas menggila itu, datanglah dokter anastesi. Dia datang terlambat karena macet di jalan. Dokter Panca namanya. Dia menyuntik bagian tubuh di sekitar tulang punggungku. Namanya suntik ILA atau lebih dikenal suntik anti sakit.

Benar saja. Begitu disuntik, aku langsung lemas dan tertidur. Aku baru bangun sekitar pukul 18.00. Kulihat hanya ibuku dan seorang bidan yang menemani. Suamiku rupanya tengah mencari penjual makanan dan membeli makan malam untuk ibuku yang sedari siang belum makan.

Akupun belajar mengedan. Rupanya suntik ILA tidak menyebabkan aku berhenti berkontraksi. Hanya tidak terasa. Beberapa kali aku belajar lantas bidan-bidan itu keluar ruangan. Tak lama datanglah dokter Okky, dokter kandunganku bersama dua orang bidan.

Setelah menyapa, dia berkata, "Oke, Rim. Kita lihat air ketubannya ya. Kalau keruh kita lanjut normal tapi kalau hijau, terpaksa kamu ta caesar". Terus terang aku kesal mendengarnya. Setelah melawan mulas yang tiada terkira, masa iya akhirnya aku harus caesar juga? Tapi itu semua langsung hilang saat ketubanku dipecahkan. Air ketubanku berwarna keruh, bukan hijau. Maka akupun diupayakan melahirkan normal. Alhamdulillah..

Allah memang Maha Pengasih dan Penyayang. Ia juga Maha Pengabul Doa. Tidak lama, hanya sekitar lima kali mengedan anakku lahir dari rahimku. Tali pusatnya melingkari leher dua kali. Anakku normal, laki-laki dengan berat 3,23 kg dan panjang 48 cm. Bayi terindah yang pernah aku lihat. Namanya Malik Muhammad Faiz, pemimpin terpuji nan beruntung. Kami memanggilnya Faiz, manusia beruntung.

Aku tak diperkenankan menemui bayiku. Sementara bayi dibersihkan, aku mendapatkan jahitan. Aku juga tak boleh bangun dari tempat tidur lantaran ILA. Larangan ini berlaku sampai keesokan pagi.

Apa daya diri ini tak boleh bertemu anak tercinta. Padahal memegangnya pun aku belum sempat. Aku tak bisa tidur semalaman. Anakku malam-malam menangis. Aku yakin sekali itu suara anakku karena hanya ada dua bayi ketika itu, bayiku dan seorang bayi perempuan. Tangisannya terdengar lebih kelaki-lakian. Sok tahu yak hehe...

Begitu pagi menjelang dan diperbolehkan bangun, buru-buru aku mandi dan menemui puteraku. Ya Allah betapa lucunya anakku. Cakep dan menggemaskan.

Anakku saat itu sedang dimandikan. Setelah selesai, bidan memberikannya padaku dan diminta untuk disusukan. Kami berdua mencobanya di kamar. ASI-ku belum juga keluar. Anakku menangis. Aku kesakitan. Bidan mengatakan, tidak apa-apa. Aku diminta terus melakukannya setiap kali dia menangis. Katanya sama-sama belajar. Dia belajar menghisap, aku belajar menyusui. Lama-kelamaan akan keluar dengan sendirinya. Bayi pun tak sedang kekurangan nutrisi karena masih ada sisa dari dalam kandungan. Jadinya tidak perlu khawatir. Kata bidan, biasanya kondisi ini berlangsung sampai empat hari.

Hari itu sampai malam hari bayiku di kamar bersamaku. Aku tak menyerahkannya ke ruang bayi. Aku memang lelah dan butuh istirahat tapi rasanya enggan jauh dari anakku. Dia kami tunggu sejak menikah 31 Maret 2007.

Semalaman bayiku menangis karena ASI-ku tak kunjung keluar. Akupun kesakitan karena belum pernah mengalami hal ini. Payudaraku serasa mau copot saking kerasnya anakku berupaya. Sampai-sampai bidan mendatangi kamarku dan menawarkan agar bayi kami beristirahat di kamar bayi sehingga aku juga bisa beristirahat. Aku menolaknya. Aku masih mau berusaha dan kuyakin bayiku juga. Kami sebelumnya sudah sama-sama berup

Lahiran Pertama

Alhamdulillah aku sudah melahirkan. Kini aku benar-benar jadi Ibu Rima seperti namaku di blog ini ;). Luar biasa menakjubkan mendapati diri berubah status. Ada makhluk kecil yang keluar dari tubuh ini dan terus tumbuh berkembang.

Aku melahirkan pada 1 Februari 2010. Dokterku bilang, "Wah angka cantik nih Rim, 01022010". Saat itu aku tengah diperiksa dan pembukaannya tak bertambah setelah semalaman menginap di klinik. Aku hanya menjawab, "Wah boro-boro mikirin angka cantik, Dok. Pokoknya anak ini harus keluar hari ini". Maklum sudah 40 pekan. Aku khawatir jika terjadi apa-apa kalau tak segera dilahirkan. Apalagi hasil USG menyatakan anakku terlilit tali pusat dan lamban masuk ke jalan lahir.

Akhirnya dokter bertanya, "Kamu tetap mau caesar atau coba induksi? Kalau caesar, saya baru bisa malam nanti. Kalau induksi tunggu 8-12 jam sampai bukaannya sempurna".

Saat itu sekitar jam 11 siang. Kupikir kalaupun caesar, akan dilakukan malam hari. Ah, daripada menunggu malam tanpa melakukan aktivitas apapun, aku memilih induksi. Toh jika memang bisa melahirkan normal dengan induksi, tetap saja lahirnya malam. Paling tidak aku sudah berusaha melahirkan normal. Jika memang kelak harus caesar, setidaknya aku tidak penasaran.

Akhirnya aku disuruh makan dulu karena bidannya bilang, "Setelah induksi, ibu ga mungkin ingat makan". Saat itu aku berpikir, ah masa sih. Tapi aku menurut saja.

Sekitar pukul 12.30 aku disuntik induksi. Tabung berjalan itu kubawa ke mana pun kupergi. Aku diminta banyak berjalan. Boro-boro jalan. Setiap lima menit aku merasa mulas luar biasa. Karena itulah akupun dipakaikan pakaian pasien. Akupun harus mengosongkan usus supaya tidak ada kotoran yang keluar dari dubur saat mengedan.

Mulai pukul 14.30 rasa mulas menggila. Otakku tak bisa berpikir apapun selain meminta maaf dan ampun pada suami dan ibuku. Keduanya saat itu menemaniku di ruang bersalin. Alhamdulillah yang keluar dari mulutku kalimat-kalimat yang baik, bukan umpatan. Konon katanya ada yang suka menyebut-nyebut kata-kata tak pantas saat mulas.

Kurang lebih satu jam setengah dari mulas menggila itu, datanglah dokter anastesi. Dia datang terlambat karena macet di jalan. Dokter Panca namanya. Dia menyuntik bagian tubuh di sekitar tulang punggungku. Namanya suntik ILA atau lebih dikenal suntik anti sakit.

Benar saja. Begitu disuntik, aku langsung lemas dan tertidur. Aku baru bangun sekitar pukul 18.00. Kulihat hanya ibuku dan seorang bidan yang menemani. Suamiku rupanya tengah mencari penjual makanan dan membeli makan malam untuk ibuku yang sedari siang belum makan.

Akupun belajar mengedan. Rupanya suntik ILA tidak menyebabkan aku berhenti berkontraksi. Hanya tidak terasa. Beberapa kali aku belajar lantas bidan-bidan itu keluar ruangan. Tak lama datanglah dokter Okky, dokter kandunganku bersama dua orang bidan.

Setelah menyapa, dia berkata, "Oke, Rim. Kita lihat air ketubannya ya. Kalau keruh kita lanjut normal tapi kalau hijau, terpaksa kamu ta caesar". Terus terang aku kesal mendengarnya. Setelah melawan mulas yang tiada terkira, masa iya akhirnya aku harus caesar juga? Tapi itu semua langsung hilang saat ketubanku dipecahkan. Air ketubanku berwarna keruh, bukan hijau. Maka akupun diupayakan melahirkan normal. Alhamdulillah..

Allah memang Maha Pengasih dan Penyayang. Ia juga Maha Pengabul Doa. Tidak lama, hanya sekitar lima kali mengedan anakku lahir dari rahimku. Tali pusatnya melingkari leher dua kali. Anakku normal, laki-laki dengan berat 3,23 kg dan panjang 48 cm. Bayi terindah yang pernah aku lihat. Namanya Malik Muhammad Faiz, pemimpin terpuji nan beruntung. Kami memanggilnya Faiz, manusia beruntung.

Aku tak diperkenankan menemui bayiku. Sementara bayi dibersihkan, aku mendapatkan jahitan. Aku juga tak boleh bangun dari tempat tidur lantaran ILA. Larangan ini berlaku sampai keesokan pagi.

Apa daya diri ini tak boleh bertemu anak tercinta. Padahal memegangnya pun aku belum sempat. Aku tak bisa tidur semalaman. Anakku malam-malam menangis. Aku yakin sekali itu suara anakku karena hanya ada dua bayi ketika itu, bayiku dan seorang bayi perempuan. Tangisannya terdengar lebih kelaki-lakian. Sok tahu yak hehe...

Begitu pagi menjelang dan diperbolehkan bangun, buru-buru aku mandi dan menemui puteraku. Ya Allah betapa lucunya anakku. Cakep dan menggemaskan.

Anakku saat itu sedang dimandikan. Setelah selesai, bidan memberikannya padaku dan diminta untuk disusukan. Kami berdua mencobanya di kamar. ASI-ku belum juga keluar. Anakku menangis. Aku kesakitan. Bidan mengatakan, tidak apa-apa. Aku diminta terus melakukannya setiap kali dia menangis. Katanya sama-sama belajar. Dia belajar menghisap, aku belajar menyusui. Lama-kelamaan akan keluar dengan sendirinya. Bayi pun tak sedang kekurangan nutrisi karena masih ada sisa dari dalam kandungan. Jadinya tidak perlu khawatir. Kata bidan, biasanya kondisi ini berlangsung sampai empat hari.

Hari itu sampai malam hari bayiku di kamar bersamaku. Aku tak menyerahkannya ke ruang bayi. Aku memang lelah dan butuh istirahat tapi rasanya enggan jauh dari anakku. Dia kami tunggu sejak menikah 31 Maret 2007.

Semalaman bayiku menangis karena ASI-ku tak kunjung keluar. Akupun kesakitan karena belum pernah mengalami hal ini. Payudaraku serasa mau copot saking kerasnya anakku berupaya. Sampai-sampai bidan mendatangi kamarku dan menawarkan agar bayi kami beristirahat di kamar bayi sehingga aku juga bisa beristirahat. Aku menolaknya. Aku masih mau berusaha dan kuyakin bayiku juga. Kami sebelumnya sudah sama-sama berup

Jumat, 12 Februari 2010

Lelaki Keduaku

Lelaki itu kupanggil Faiz. Dialah lelaki keduaku. Setiap memandangnya, perasaanku bercampur aduk. Senang, bahagia, haru, takjub. Rupa-rupa pokoknya. Apalagi jika kami hanya berdua. Wah semakin menjadi. Segala rasa muncul dan tercurah padanya.

Lelaki itu hadir setelah masa penantian nyaris tiga tahun lamanya. Ia hadir juga dengan proses yang tak mudah. Ada perdebatan, ada kesalahpahaman, ada ngambek-ngambekan, ada-ada saja.

Lelaki itu putera pertama kami, Malik Muhammad Faiz. Pemimpin yang beruntung. Itulah harapan kami seperti pemimpin para umat, nabi besar Muhammad SAW. Doa kami senantiasa menyertaimu lelaki keduaku.

Hari-hari di Archa Clinic

Kulalui hari-hari pertamaku sebagai ibu di klinik bersalin ARCHA CLINIC. Klinik yang teramat jauh dari kediamanku itu punya cerita tersendiri. Begini ceritanya:

Seperti sudah kutuliskan dalam postingan-postinganku sebelumnya, terapisku sudah meminta kami, aku dan suamiku untuk menyegerakan kelahiran. Bahkan dari semula diperkirakan lahir akhir Januari, ia kemudian meminta kami segera melahirkan di pertengahan Januari. Selambatnya 25 Januari 2010. Alasannya, tali pusat anakku melilit di lehernya. Jika dibiarkan, akan membahayakan ibu atau anaknya. Selain itu, tulang panggulku kecil sementara saat itu anakku sudah seberat 3,4 kg berdasarkan terawang USG 4D. Ia pun merekomendasikan satu dokter obgyn yang berpraktek di RSI Bintaro. Setahu dia, dokter tersebut memiliki klinik tersendiri namun ia tak tahu persis letaknya.

Lantaran lokasi RS yang jauh, aku dan suami tidak lantas mengikuti sarannya. Aku mencoba mendatangi RS tempat biasa memeriksakan kehamilan. Karena selama ini memeriksakan diri ke bidan, aku beralih ke dokter obgyn. Kuutarakan niatan melakukan operasi caesar. Serta-merta dokter tersebut menolak. Menurut pemeriksaannya, bayi kami baik-baik saja. Begitu juga dengan aku. Ia tidak melihat ada hal yang salah dengan kehamilanku sehingga aku harus dioperasi caesar.

Karena saat itu aku tidak bersama suami, kujadikan ia sebagai bemper. Tak mungkin kan kalau aku mengatakan padanya, "Pak Sobri yang merekomendasikan kami caesar dengan alasan XYZ". Dokter itu kan tak kenal Pak Sobri, terapisku. Maka kujadikan suamiku sebagai alasan mengapa aku meminta caesar. Aku mendapati kesan bahwa dokter tersebut sebal terhadapku karena hal itu. Ia merasa seperti digurui padahal ia yang lebih tahu soal penanganan kehamilan ketimbang aku. Begitu juga dengan bidan yang biasa memeriksaku. Kebetulan saat itu ia tengah membantu dokter tersebut berpraktek. Ia memintaku untuk tidak kembali ke bidan karena aku sudah beralih ke dokter. Sempat terpikir untuk beralih dokter di RS yang sama. Tapi rasanya ko tak etis ya?

Suamiku bisa menerima alasan dokter. Menurutnya, dokter punya alasan menolakku karena ia juga punya prinsip. Jadi tak semua dokter bisa memenuhi permintaan pasien begitu saja. Akhirnya kami sepakat mendatangi dokter RSI Bintaro yang direkomendasikan terapisku. Kami pikir, ia bisa memenuhi permintaan kami. Apalagi ia kenal dengan terapisku sehingga aku tak perlu menjadikan siapapun sebagai bemper. Aku bisa mengatakan apa adanya. Tapi ternyata, lain ceritanya. Dokter obgyn tersebut berprinsip sama dengan dokter yang kudatangi sebelumnya.

Lantaran mahalnya RSI Bintaro, ia pun merujuk klinik miliknya di BSD City. Harganya lebih murah dengan kualitas layanan sama dengan RSI Bintaro (hehe jadi promosi). Pada pertemuan berikutnya di klinik, USG menunjukkan kepala bayiku sudah menempel di tulang panggul. Dokter memintaku sabar dan menanti sampai ia masuk ke jalan lahir. Hasil NST juga menunjukkan kondisi bayiku baik-baik saja. Air ketubanku pun cukup untuk melahirkan normal.

Pada pemeriksaan selanjutnya, dua hari setelah itu, kepala bayiku sudah memasuki jalan lahir walaupun baru setengahnya. Dokter yakin kalau aku bisa melahirkan normal. TApi aku tak merasakan mulas. Padahal berdasarkan grafik NST, aku sudah mulas-mulas. Kata dokter, itu malah bagus. Orang lain malah ingin merasa tidak mulas. Aku kok ya malah bingung. Hehe..

Akupun diberi obat perangsang mulas sebanyak enam butir untuk tiga hari. Aku diminta banyak bergerak apapun jenisnya. Jalan pagi, naik turun tangga, jongkok berdiri, senam hamil, nungging. Semuanya kulakukan. Katanya gerakan-gerakan itu membantu bayi menuju jalan lahir.

Namun lagi-lagi aku was-was. Sudah lima butir obat yang kuminum tapi aku tak kunjung mulas. Malah perutku masih nampak "menggantung". Kata orang, kalau bayi sudah di jalan lahir, perut akan "turun". Tapi kami tak putus berupaya dan terus memohon agar diberi kemudahan dalam melahirkan. Jujur saja aku meminta kepada Yang Maha Kuasa agar diberi kesempatan melahirkan normal. Bahkan aku mengajak bicara bayiku agar sama-sama berusaha dan berdoa untuk bisa melahirkan normal. Aku pasrah. Suamiku pasrah.

Ahad (31/1) sore aku dan suami tengah santai mengobrol di kamar. Tiba-tiba aku merasa ada yang mengalir dari tempat keluar bayi. Khawatir mengotori kasur, akupun sontak lompat dan membuka pakaian dalam. Ada darah segar di situ. Aku panik, takut, dan bingung. Apakah itu tanda akan melahirkan ataukah terjadi sesuatu dengan bayiku?

Selama ini yang kudengar, tanda melahirkan adalah munculnya flek dari lubang tempat keluarnya bayi atau pecahnya ketuban. Pikirku, flek seperti darah akhir menstruasi, yaitu berwarna cokelat atau kuning dan kering. Jumlahnya pun hanya sedikit. Rupanya yang terjadi padaku adalah flek juga namanya. Hehe.. maklum belum pengalaman.

Ibu mertuaku meminta kami, aku dan suami, untuk tenang. Kami diminta segera bersiap ke klinik. Akupun mandi dan mengeluarkan tas yang selama ini sudah kusiapkan untuk persalinan. Tak lupa aku menelepon ibu di Bandung untuk meminta doanya sekaligus memohon ampun. Aku juga menelepon klinik untuk memberitahukan kedatanganku.

Semula sore itu pula kami hendak berangkat. NAmun karena menunggu mulasku datang dan hal-hal lain, maka baru malam hari kami berangkat. Kami sempat menjemput ibu di stasiun. Rupanya begitu mendapatiku akan melahirkan, ibu langsung pergi ke stasiun.

Setiba di klinik sekira pukul 22.30 WIB. Bidan, asisten dokterku, kemudian memeriksaku. Aku sudah bukaan satu. Akupun masuk rung observasi lantaran tempat tinggalku yang jauh. JAdilah aku menginap bersama suami dan ibuku.

Esok harinya sekitar pukul 10.30 WIB, dokter memeriksaku. Lagi-lagi masih bukaan satu. Lagi-lagi tak juga kurasakan mulas. Dokter pun memberikan pilihan, aku keukeuh dengan operasi caesar ataukah mencoba induksi untuk merangsang mulas. Jika hendak operasi, ia baru bisa melakukannya malam hari lantaran harus berpraktek di RSI Bintaro dan juga sudah ada jadwal operasi. Sedangkan jika induksi, akan tampak bukaan sempurna sekitar 8-12 jam. Dihitung-hitung keduanya baru bisa dilakukan malam hari. Kupilih induski saja. Pikirku kalaupun nanti harus caesar, setidaknya aku mempergunakan masa tunggu dengan upaya melahirkan normal. Jadi tak penasaran.

Sekitar pukul 12.30 WIB aku diinfus induksi. Setengah jam kemudian mulai bereaksi. Tak henti-hentinya aku merasa mulas. Saat pengecekan pukul 15.00 WIB, aku sudah bukaan empat. Akupun masuk ruang bersalin. Di sanalah aku bermulas ria. Ditemani suami dan ibuku akupun menjalani rasa mulas dan sakit yang tak putus-putus. Dokter anesthesi yang dijadwalkan menyuntikkan ILA padaku tak kunjung datang. Ia terjebak macet. Padahal seharusnya aku sudah mendapat suntik ILA untuk menghilangkan rasa sakit dan mulas tanpa menghilangkan kontraksi. Archa Clinic memang dikenal dengan program melahirkan normal tanpa rasa sakit melalui suntik ILA.

Dokter anesthesi sempat kesulitan menyuntikkan ILA padaku. Maklum saja aku sudah bukaan lima entah enam. Otot-ototku di sekujur tubuhku menegang menahan rasa sakit dan mulas. Sementara untuk menyuntikkan ILA, ototku diminta rileks. Aku tak dapat melihatnya. Tapi kata ibu dan suamiku, jarum sempat mental. Setelah selesai disuntik, aku langsung merasa lemas dan tertidur lelap. Selama tidur, aku tetap kontraksi lo! Hebat kan? Hehe...

Aku dibiarkan tidur sampai pukul 18.00 WIB. Bagian perut sampai bawah terasa mati rasa. Berat sekali untuk digerakkan bahkan untuk gerakan kecil sekalipun. Kemudian aku belajar mengedan sambil menanti dokter hadir. Caranya, setiap kali ada kontraksi (dengan cara memegang perutku), bidan menyuruhku mengedan. Alhamdulillah anakku lahir selamat pada pukul 19.15 WIB. Sempat aku dibuat deg-degan saat dokter datang dan berkata, "Kita pecahin ketubannya dulu ya Rim. Kalau jernih, kita lanjut normal. Kalau hijau, saya operasi kamu". Pikirku saat itu, masa iya aku sudah mulas-mulas sedari siang akhirnya harus operasi juga? Tapi semua itu pupus saat dokter berkata, "Air ketubannya bagus, Rim. Kita bisa normal". "Alhamdulillaah".

Ditemani ibuku, dalam lima kali mengedan muncullah sesosok bayi mungil dari rahimku. Ia terlilit tali pusat dua kali. Alhamdulillah ia selamat. Sebenarnya suamiku ingin menemani. Tapi ia salah perhitungan waktu. Dipikir dokter paling datang malam sehingga menurut perhitungannya, aku melahirkan sekitar pukul 20.00 WIB. Jadinya ia ke warung nasi untuk membelikan ibuku nasi bungkus karena sedari siang belum makan. Menantu yang baik ya... Tapi tak apa, ia masih sempat mengadzani putra pertama kami, Malik Muhammad Faiz. Ia lahir pada 1 Februari 2010 pukul 19.15 WIB dengan berat 3,23 kg dan panjang 48 cm.

Karena suntikan ILA itu, aku tidak diperbolehkan bangun sampai pukul 06.00 WIB. Aku hanya boleh berbaring. Mengangkat kepala pun diusahakan tidak sering. Semalaman aku tak bisa tidur. Pegal rasanya badan ini. Kudengar suara tangis bayi dari ruang bayi. Kuyakin itu bayiku tapi aku tak bisa mendekapnya. Rasanya seperti bertahun-tahun menunggu pagi. Maka begitu pagi menyingsing, kulangsung mandi. Padahal efek ILA masih terasa. Kepalaku masih pusing. Tapi demi melihat bayiku, kupaksakan saja. Begitu aku mendapati bayiku, aku merasa seperti orang paling bahagia di dunia. Aku bisa mendekapnya di dadaku.

Aku tak mau membaginya dengan klinik. Sejak hari itu aku tidak memberi Faiz ke ruang bayi. Sebisa mungkin ia ada di ruanganku. Walaupun ASI-ku belum ada, tapi aku tetap mencobakannya. Kami kembali sama-sama berupaya seperti halnya saat hendak lahiran sebelumnya. Semalaman Faizku menangis. Mungkin kesal karena ia rajin menghisap namun tak kunjung keluar. Jadinya kami begadang. Tak apalah. Hitung-hitung latihan. Padahal bidan sudah menawarkan diri untuk menyimpan Faiz di ruang bayi agar aku bisa istirahat. Tapi aku tak mau. Kupikir biarlah aku tak istirahat. Toh anakku juga tak akan istirahat di ruang bayi karena tak ada ASI, yang ada hanya empeng. Kasihan ah.

Saat pulang ke rumah, kegiatan serupa terus kualami sampai sekarang: begadang. Apalagi kalau siang hari aku tak boleh tidur. Padahal Faizku tidur dengan lelapnya. Kata orang tua sih, takut darah putih naik jadinya tak bisa melihat di hari tua. Entah benar atau tidak, tak ada salahnya dituruti. Yah hitung-hitung balasan waktu hamil tidur melulu. Hehe...

Senin, 25 Januari 2010

Jelang Lahiran

Jadi malu. Isi blog mostly about pregnancy. Hehe... Maklumin aja ya, lagi narsis nih, pertama kali hamil. Jadinya banyak yang ingin diceritakan.

Seperti yang sudah kuceritakan dipostingan sebelumnya, aku dinyatakan harus operasi caesar untuk bisa melahirkan anakku ini. Karena itulah, aku datangi rumah sakit tempatku memeriksakan kehamilan. Kuberalih menuju dokter kandungan (biasanya aku periksa ke bidan). Kupilih seorang dokter perempuan. Padanya kuminta operasi caesar.

Serta merta ia menolakku. Setelah diperiksanya, ia bilang kandunganku baik-baik saja. Anakku pun dalam keadaan baik. Hanya saja ia sedikit terlilit tali pusat. Menurutnya itu hal biasa. Ia bilang, 90 persen bayi yang dalam penanganannya berada dalam kondisi seperti itu. Lumrah saja. Toh hanya 10 persen darinya yang harus dioperasi caesar. Selebihnya bisa dilahirkan normal. Ia memintaku sabar dan akan mengusahakan normal.

Memang, aku tak mengatakan jika caesar adalah rujukan dari terapisku. Kan dia belum mengenal terapisku. Jadilah kujadikan suamiku sebagai "bemper". Ia kujadikan alasan mengapa kami meminta caesar. Tadinya kami pikir, adalah hak kami meminta caesar. Namun setelah penolakan dokter tersebut, suamiku berkata, hak dokter pula untuk menolak karena ia yang akan menangani. Dipikir-pikir memang dokter banyak macamnya ya. Sama saja dengan profesi lain. Banyak ragamnya.

Akhirnya aku mendatangi dokter kandungan yang dirujuk terapisku. Jauh benar lokasinya dari kediamanku di Tanah Abang. Dokter ini berpraktek di Serpong. Bedanya, ia laki-laki dan kenal terapisku. Jadinya aku tidak menjadikan suami sebagai "bemper" lagi.

Rupanya dokter yang ini pun memiliki pendapat tak jauh berbeda. Menurutnya, yang menjadi persoalan bukanlah lilitan tali pusat melainkan besarnya janin. Tali pusatnya tidak membelit leher, hanya melintang di dekat leher. Namun berat bayi sudah 3.400 gram. Aku kaget. Pasalnya, terakhir kali USG, berat bayiku 3.200 gram. Itu kulakukan hanya satu pekan sebelum ke Serpong. Cepat sekali ia bertambah besar hanya dalam kurun sepekan. Padahal aku sudah menghentikan minum sirop dan eskrim selama hampir dua pekan sebelum ke Serpong.

Dokter menyebutkan, dalam kondisi seperti ini, bisa jadi anakku pada kenyataannya sudah bermassa 3.600 gram. Kemungkinan pada saat lahir bisa mencapai 3.800 gram. Pasalnya, usia kandunganku belum genap 39 minggu ketika itu. Untuk genap 40 minggu (usia paling matang lahiran), aku harus menunggu sampai 31 Januari. Ia menyarankan aku untuk banyak jalan pagi dan senam hamil. Ia masih berharap aku bisa melahirkan dengan cara spontan. "KAmu masih ingin hamil kedua dan ketiga kan Rim?" tanyanya.

Sepulang dari Serpong, kudatangi terapisku. Memang ketika di Serpong pun, aku meneleponnya dan kubiarkan ia berbincang dengan dokter. Dokter hanya tertawa. Rupanya, ada dua kekhawatiran terapisku. Bayiku yang besar dan panggulku yang sempit untuk bayi sebesar itu. Setelah mendengarkan apa kata dokter, akhirnya ia pun menyetujuinya. Aku dan suami diminta menunggu sampai genap 40 minggu. Dalam masa penantian itu, aku diminta hal yang sama, banyak bergerak dan jalan pagi. "Insyaallah dia bisa turun ke jalan lahir", ujarnya.

Alhamdulillah kami pun melakukan apa yang diminta. Setiap pagi kami jalan-jalan di sekitar kediaman. Kurang lebih selama satu jam. Aku pun senam hamil satu sampai dua kali sehari. Aku juga suka jongkok dikala mandi dan mencuci. Tapi kalau sudah tidak tahan, uambil juga bangku kecil dan duduk. Kuupayakan juga memperlama sujud dan rukuk seperti yang dianjurkan ibuku. Mudah-mudahan upaya ini bisa membantu kelancaran kelahiran anakku kelak. Amin...

Allaahumma yatsir walaa tuatsiir. Ya Allaah, berikanlah kemudahan, jangan beri kesukaran. Aamiin... Kita usaha bersama ya, Nak...