Rabu, 16 Februari 2011

Oleh-oleh dari Bandung

Kali ini saya tidak akan membicarakan buah tangan. Bukan soal penganan khas ibu kota Jawa Barat yang kian hari kian variatif saja dengan kreasi penganan baru maupun pakaian yang katanya murah tapi modis itu. Oleh-oleh kali ini sifatnya lebih pribadi; pengalaman hidup.

Sejak memiliki Faiz dalam kehidupan kami, Bandung jarang kami singgahi. Pun orang tuaku masih tinggal di sana. Ketika 0faiz berusia lima bulan, barulah kami sebisa mungkin merutinkan diri mengunjungi nenek dan kakeknya. Kami tak ingin Faiz dan orang tuaku menjadi tak kenal lantaran jarang berjumpa. Tak adil rasanya lantaran kami di Jakarta tinggal bersama oma dan opa Faiz, orang tua suamiku. Maka satu bulan sekali rasanya cukup mengobati rasa kangen pada keluarga di Bandung. Aku dan Faiz biasanya tinggal sepekan di ibu kota Jawa Barat ini. Sementara suamiku bagian mengantar dan menjemput. Maklum, dapur harus tetap ngebul.

Saat ini Faiz sudah berusia satu tahun. Jadi sudah beberapa bulan ada cerita dari Bandung. Salah satunya pengalaman ibu saya.

Ibu memiliki tiga anak perempuan. Si sulung menimba ilmu kedokteran gigi. Sewaktu masih kuliah, biasalah ibu-ibu di lingkungan suka membahas anak-anaknya. Salah satu ibu di lingkungan memandang rendah ibu dan kakakku. Katakanlah namanya D. "Alah masa iya sekolahnya mahal. Anak ibu kan cuma ngurusin gigi doang. Anak saya tuh yang di kedokteran umum aja nggak sampai segitu. Padahal kan ngurusinnya banyak, nggak cuma gigi". Ibuku hanya diam.

Kemudian kakakku ini menikah dan memiliki anak saat masih kuliah. Otomatis pengasuhan anaknya lebih banyak dipegang ibu. Ibu tak keberatan. Maklum, cucu pertama. Apalagi kondisinya kakakku masih harus kuliah. Ibu juga mendorongnya menyelesaikan pendidikan. Memang ibu pernah berkata kepada kami bila ibu dan bapak akan berupaya keras anak-anaknya bisa mengecap pendidikan tinggi. "Ibu dan bapak tak punya harta untuk diwariskan. Kami hanya bisa mengupayakan kalian bisa sekolah tinggi".

Karena itulah, ibu terkesan disibukkan oleh cucu. Dalam berkegiatan sosial di masyarakat, ibu membawa cucunya. Ucapan-ucapan sinis ada saja yang melontarkan. "Euh, meni kabeungkeut ku incu (ih kok terikat sama cucu)", "Aduh kok ya jadi taman bermain begini sih", dan kalimat-kalimat senada ditujukan pada ibu. Lagi-lagi ibu hanya bisa diam.

Entah berapa lama ibu mendapat perlakuan seperti itu. Saat ini cucu pertama ibu sudah berusia 9 tahun dan sudah jarang ikut ibu bersosialisasi. Tapi sudah sekitar setahun belakangan ini ibu bisa tersenyum lepas. Bahkan bisa membalikkan kata-kata yang pernah diterima beliau.

Satu hari ibu tengah berkumpul dengan beberapa ibu di lingkungan. Termasuk di antaranya ibu D. Salah seorang ibu, sebut saja A, tiba-tiba saja berkata pada ibuku "Ya ampun ibu, bener ya. Kedokteran gigi teh mahal banget kuliahnya. Si ibu meni bisaan (si ibu kok ya sanggup)". Rupanya ketika itu putra ibu A tengah menjalin kasih dengan mahasiswi kedokteran gigi yang sama dengan kakakku. Ibuku hanya tersenyum. "Alhamdulillah rizqi anak saya".

Nah kalau berkenaan dengan cucu, lebih menarik lagi. Ibu D yang sudah pernah sinis beberapa kali pada ibuku kini kena juga. Selain mendengarkan langsung soal pendidikan kakakku, ia kini mengalami sendiri "keterikatan" cucu. Bukan satu, tapi dua. Cucu-cucunya ini adalah putra-putra dari anaknya yang dokter umum itu. Jika ibu dulu tak pernah mengeluh, kini ibu D berkata pada ibuku "Duh meni asa jadi ngababu kieu (Aduh serasa dibabuin begini)".

Sementara itu sekarang ini di setiap pertemuan lingkungan, tidak hanya dihadiri ibu-ibu dan bapak-bapak tapi juga anak-anak balita bahkan bayi. Ya, mereka adalah cucu-cucu dari ibu bapak tetangga. Beberapa di antaranya yang pernah bersikap sini pada ibu. Kata ibuku, sekarang beliau suka tertawa dan dengan bercanda mengembalikan kalimat-kalimat yang pernah diterimanya dulu. Paling-paling mereka jadi tertawa bersama.

ΒεŧΰĹ sekali, Tuhan bekerja dengan caranya yang misterius. Kesakithatian ibu dibalasNYA tanpa harus ibu melakukan apapun. Mudah-mudahan aku tak merepotkan siapapun dalam mengurus anak. Tidak orang tuaku maupun mertuaku. آمِّينَ.

Selasa, 01 Februari 2011

hari ini setahun kemarin



Hari ini setahun yang lalu kami mendapatkan keajaiban. اَللّهُ menganugerahi kami keturunan. Ialah anak pertama kami, Malik Muhammad Faiz. Agaknya berlebihan bila aku menyebutnya keajaiban. Tapi bagi kami, terutama aku, seperti itulah rasanya.

Faiz lahir melalui proses yang panjang. Ia dinantikan sejak ayahku menerima ijab nikah seorang lelaki yang kini menjadi suamiku. Ya, kami tak pernah menunda mendapatkan keturunan. Kami percaya itu adalah amanah. Sehingga tak laik rasanya bila amanah ditunda-tunda.

Sebelum menikah, anak menjadi bahan pembicaraan kami. Bukan soal tunda atau tidaknya tetapi lebih kepada seperti apa kelak kami akan membentuk mereka. Hahaha ya, kalian tak salah baca. Aku menuliskan kata "mereka", bukan "dia". Kami percaya diri berangan memiliki anak lebih dari satu orang. Malah suamiku bilang "sebanyak-banyaknya" hahaha..

Orang boleh berangan tapi yang punya kehendak adalah اَللّهُ. Dialah yang memiliki hak mutlak kepada siapa amanah berupa keturunan akan diberikan dan kapan masa yang tepat mendapatkannya.

Ketika pernikahan memasuki usia bulanan, kami masih santai. "Doakan saja", "Belum waktunya", "Disuruh pacaran dulu sama Yang Maha Kuasa" menjadi jawaban setiap kali pertanyaan "Sudah hamil belum, bu?" Tetapi begitu menginjak usia satu tahun, ketar-ketir juga diri ini. Aku jadi bertanya-tanya, kenapa sampai setahun menikah belum juga dapat keturunan. Apakah yang salah dengan kami, terutama aku.

Kuberanikan diri memeriksakan ke dokter. Pikirku, aku harus tahu ada apa dengan tubuhku ini. Kalau memang ada yang bermasalah, aku ingin menyembuhkannya dulu. Mumpung masih muda. Nyatanya memang ada yang harus diobati.

Akhirnya aku memutuskan berhenti bekerja. Kupikir kelelahan menjadi salah satu faktor sulitnya kami berketurunan. Bagi teman-teman yang lain barangkali memang tidak. Tapi bukankah setiap orang adalah berbeda?

Rupanya kami masih harus diuji. Berhenti kerja tak lantas membuatku hamil. Aku malah sempat lama berleha-leha dan mengambil kuliah Akta IV. Bukan untuk bekerja, tapi menambah ilmu. Aku sepakat dengan suamiku bila menuntut ilmu itu sasarannya bukan untuk cari uang tapi menambah wawasan; membantu pola pikir yang runut, praktis, dan efisien; membangun jaringan.

Ke dokter, sudah. Kami pun beralih ke pengobatan tradisional. Dari sekian banyak rekomendasi, kami memilih pengobatan Pak Sobri di Cililitan. Alasannya, ilmiah, masuk akal, bukan magis, dan cocok di hati. Kami pun punya keyakinan bisa berhasil dengan metode pengobatan tradisional sang herbalis ini.

Intinya kami diminta mengubah pola makan. terutama aku yang akan mengandung. Begitu banyak jenis makanan yang dipantang. Selain detoksifikasi, cara ini mampu mengatasi masalah yang juga terdeteksi oleh dokter sebelumnya.

Tunggu punya tunggu, tiga bulan setelah rutin berobat sepekan sekali, aku hamil. Awalnya tak percaya melihat testpack. Sampai sepekan setelah itu aku kembali tes dan garis dua pada testpack semakin nyata. Aku terbengong-bengong dengan perasaan tak menentu.

Saat Pak Sobri menyatakan ya, aku hamil. Aku sendiri masih mempertanyakannya. Maka akupun cek ke rumah sakit untuk USG. Hasilnya positif aku hamil. Bahkan aku bisa melihat satu titik kecil di dalam rahimku yang bergerak-gerak.

Mulailah masa kehamilan kujalani. Pantangan makanan masih kulakukan hingga melahirkan. Kehamilanku kurasakan biasa saja, tidak berat seperti apa yang pernah kudengar atau kubaca. Aku tak mengalami "morning sickness". Juga ngidam sesuatu yang amat sangat diinginkan sehingga harus didapatkan. Katanya kalau tidak dipenuhi, bayinya ileran.

Seingatku hanya dua kali aku punya keinginan selama hamil. Tapi itupun tak menggebu-gebu. Hanya tercetus saja dalam hati dan الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ terlaksana.

Pertama ketika di dapur aku tengah mencuci piring. Entah dari mana asalnya, muncul begitu saja dalam hati kalimat "Kayaknya enak nih makan rambutan". Saat itu bukan musim rambutan. Tapi dasar emang rizqi, selang beberapa menit kemudian mama mertuaku tiba di rumah. Ia baru saja diajak piknik ke tempat seorang kawan di kawasan Bogor, Jawa Barat. "Tuh, Ma ada rambutan". Seperti mendapatkan bulan, aku langsung membuka tas plastik yang disimpan mama mertua di meja makan. Ada serenceng rambutan. Kumakan beberapa saja. Manis, enak. Sudah.

Kedua ketika adikku datang dari Bandung. Dalam hati aku sudah berniat "Ah, nanti ajak Nti ke bakso Pak Kumis". Eh tiba-tiba suamiku menelepon "Neng mau bakso Pak Kumis? Ini Aa lagi di warungnya". Subhanallah dengan mudahnya aku bisa makan bakso Pak Kumis yang enak itu tanpa harus bersusah payah mendatanginya.

Saat hamil tua (kalau kata orang, sudah bulannya) aku bingung. Perut ibu-ibu hamil seusia kandungan yang sama denganku di rumah sakit kok sudah pada "turun" sementara punyaku masih "gantung". Kugiatkan jalan pagi, jongkok, naik-turun tangga, nungging, sujud, rukuk, senam hamil. Apapun untuk membuat perutku "turun". Namun upayaku belum juga berhasil. Maka akupun makin intes mengajaknya bicara khusus berjuang untuk segera turun ke jalan lahir. "Ayo Nak kita sama-sama berusaha. Ibu dari luar, kamu dari dalam, yuk!".

Selain belum "turun", aku juga belum merasakan mulas sampai pekan ke-40 kehamilan. Dokter memberiku enam butir kapsul perangsang mulas. Satu hari diminum dua kali.

Satu sore di hari Ahad aku mengeluarkan flek tanpa rasa mulas. Takut, senang, bingung berkecamuk. Berusaha tenang tetap saja hati ini tak menentu. Perjalanan hidup berputar dengan cepat seperti sedang menyaksikan sebuah film dengan aku sebagai bintang utamanya. Buatku makin tenggelam dengan perasaan tak menentu. Kuhubungi ibuku di Bandung. Kumintai restu dan ampunannya.

Tak dinyana ibu langsung ke stasiun kereta api dan berangkat ke Jakarta. Maka akupun menantinya sebelum pergi ke rumah bersalin. Sesampainya di Stasiun Gambir, ibu kujemput dan bersama-sama ke Klinik Archa di BSD, tempat aku memeriksakan kandungan di masa-masa terakhir kehamilan.

Bidan memeriksa. Aku baru bukaan satu. Akupun masuk ruang observasi. Antisipasi bila bukaanku cepat dan melahirkan malam itu sementara jarak rumah dan klinik jauh.

Malam itu aku tak nyenyak tidur. Mulas memang belum datang juga tapi hatiku berkecamuk. Takut, senang, bingung, haru, segala rupa tumplek plek di diriku. Apalagi melihat ibu dan suami yang menemaniku malam itu. Duh rasanya gimana gitu. Dan yang paling membuatku takut adalah jika aku harus menjalani operasi. Wuih ngeri membayangkannya.

Di pagi hari dokter memeriksaku dan masih saja pembukaan satu. Dokter menyerahkan pilihan padaku untuk melahirkan secara caesar atau normal dengan cara induksi. "Tapi kalau caesar saya baru bisa nanti malam." Kupikir kalau caesar baru bisa malam, kenapa tidak kucoba induksi saja. Jadi aku tak bengong menunggu malam. Yah, siapa tahu rizqi kami adalah melahirkan secara normal. Kupilih induksi.

Pukul 12.30 aku diinduksi. Satu jam kemudian mulai bereaksi. Rasa mulas melanda. Makin lama makin menggila. Pukul 15.00 aku masuk ruang bersalin. Aku sudah tak lagi bisa berdiri. Suami dan ibu sabar menemaniku.

Sekira pukul 17.00 dokter anestesi menyuntikkan ILA padaku. Ini adalah suntikan anti rasa sakit tanpa menghilangkan kontraksi. Seketika itu pula aku lemah dan terkulai lantas tertidur. Sejam kemudian aku bangun. Bidan melatihku mengedan. Tak lama dokter datang. Kami berlatih mengedan sebentar lalu melahirkan.

Aku tak merasakan sakit. Kontraksipun tidak. Mempan ILA padaku. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ putraku lahir sekira pukul 19.15 WIB. Dua lilitan tali pusat melingkari lehernya. Ia dibersihkan dan keluar dari ruang bersalin. Sementara aku harus berbaring sampai pukul 06.00 pagi keesokan harinya. Ya, konsekuensi tak sakit saat kontraksi. Alhasil semalaman aku tak bersama Faiz. Aku tak bisa tidur. Ingin kumelihat putra pertamaku itu.

Pukul 06.00 aku minta izin bangun dari tempat tidur. Aku mandi dan segera ke ruang bayi. Badanku masih sedikit melayang tapi rasa rindu melebihi kelemahanku. Seharian aku bersamanya. Bidan memintaku menyimpan Faiz di kamar bayi saat tidur agar aku bisa istirahat pun tak kululuskan. Tak mau kuterpisah ruang dengannya lagi.

Kami juga harus berjuang dalam kegiatan pemberian ASI. Sebagai perempuan yang baru pertama kali melahirkan, khawatir tak punya cukup ASI untuk putraku. Pertama kali menyusui, ASI-ku sedikit keluar sementara Faiz menghisap dengan kuat. Kami sama-sama belajar. Bidan menyemangatiku untuk percaya diri dengan ASI yang kupunya. Perlahan namun pasti kami bisa melaluinya. Pemberian ASI menjadi kegiatan favorit kami berdua.

Tak terasa itu semua sudah berlalu setahun kemarin. Tapi setiap rincian hal tentangnya masih segar dalam ingatanku.

Selepas itu banyak hal yang kami lalui bersama. Aku masih banyak belajar. Terutama menghadapi Faiz yang sedang dalam masa keemasan.

Wahai manusia beruntung, semoga berkah اَللّهُ selalu menyertai setiap langkah kehidupanmu. Wahai pemimpin umat, mulialah engkau di masa lalu, kini, dan yang akan datang. Wahai jiwa yang baik, terpujilah engkau. Kelak اَللّهُ menempatkanmu beserta golongan kekasih-NYA. آمِّينَ.

Jakarta, 1 Februari 2011
Teruntuk putra sulungku, lelaki keduaku, Malik Muhammad Faiz.

Kamis, 20 Januari 2011

aku takut

kudengar lonceng
aku takut
lonceng itu bergaung terus menerus
memekakkan telingaku

saat sepi
aku takut
sepiku itu karena aku di dalam lonceng

kududuk
menanti
akankah sepi
ataukah lonceng
bergema kembali

Senin, 15 November 2010

jarang nge-blog

Sejatinya aku buat blog ini untuk membagi cerita tentang diriku yang mulai menjadi istri dan ibu. Bahkan aku menjadikan "ibu rima" sebagai nama di blog ini. Rencananya, blog ditulis rutin dan berisi warna-warni kehidupan sebagai seorang istri dan ibu.

Rencana tinggal rencana. Aku tak merutinkan penulisan. Semakin lama semakin jarang aku menulis blog. Alasannya? Hm... Tak adil juga cari-cari alasan. Awalnya karena aku tak punya mobile gadget untuk bisa menulis kapanpun aku mau. Begitu sudah punya pun tak lantas membuatku rajin menulis.

Aku tak mau mengambinghitamkan anakku. Tapi benar memang aku jadi tak berkesempatan menulis sejak anakku lahir. Aku fokus dengannya. Begitu banyak hal yang terjadi antara kami berdua. Begitu hendak kutuliskan, wah terlalu banyak. Yang ada malah ngantuk kecapean.

Ingin sekali menjadikan blog sebagai catatan perkembangan anak. Bisakah aku?

Selasa, 19 Oktober 2010

aku hanya mengenalmu

jangan kau sebut nama itu lagi
aku tak kenal siapa dia
aku hanya mengenalmu

Senin, 05 Juli 2010

Baru Kembali

Bingung nih baru kembali lagi buka blog...
Sebingung diri ini menghadapi masalah...
Ga nyangka aja kalau ternyata selama ini...
Hiks...
Dia sudah menghapusnya...
Tapi tak sepenuhnya menghapusnya...
Masih ada benang yang mengaitkannya...
Bukan satu...
Tapi banyak...
Mana?
Katanya mau dihapus semua apapun bentuknya...
Kalau begini ko ya rasanya percuma saja...
Hiks...Hiks...Hiks...

Jumat, 16 April 2010

Lahiran Pertama

Alhamdulillah aku sudah melahirkan. Kini aku benar-benar jadi Ibu Rima seperti namaku di blog ini ;). Luar biasa menakjubkan mendapati diri berubah status. Ada makhluk kecil yang keluar dari tubuh ini dan terus tumbuh berkembang.

Aku melahirkan pada 1 Februari 2010. Dokterku bilang, "Wah angka cantik nih Rim, 01022010". Saat itu aku tengah diperiksa dan pembukaannya tak bertambah setelah semalaman menginap di klinik. Aku hanya menjawab, "Wah boro-boro mikirin angka cantik, Dok. Pokoknya anak ini harus keluar hari ini". Maklum sudah 40 pekan. Aku khawatir jika terjadi apa-apa kalau tak segera dilahirkan. Apalagi hasil USG menyatakan anakku terlilit tali pusat dan lamban masuk ke jalan lahir.

Akhirnya dokter bertanya, "Kamu tetap mau caesar atau coba induksi? Kalau caesar, saya baru bisa malam nanti. Kalau induksi tunggu 8-12 jam sampai bukaannya sempurna".

Saat itu sekitar jam 11 siang. Kupikir kalaupun caesar, akan dilakukan malam hari. Ah, daripada menunggu malam tanpa melakukan aktivitas apapun, aku memilih induksi. Toh jika memang bisa melahirkan normal dengan induksi, tetap saja lahirnya malam. Paling tidak aku sudah berusaha melahirkan normal. Jika memang kelak harus caesar, setidaknya aku tidak penasaran.

Akhirnya aku disuruh makan dulu karena bidannya bilang, "Setelah induksi, ibu ga mungkin ingat makan". Saat itu aku berpikir, ah masa sih. Tapi aku menurut saja.

Sekitar pukul 12.30 aku disuntik induksi. Tabung berjalan itu kubawa ke mana pun kupergi. Aku diminta banyak berjalan. Boro-boro jalan. Setiap lima menit aku merasa mulas luar biasa. Karena itulah akupun dipakaikan pakaian pasien. Akupun harus mengosongkan usus supaya tidak ada kotoran yang keluar dari dubur saat mengedan.

Mulai pukul 14.30 rasa mulas menggila. Otakku tak bisa berpikir apapun selain meminta maaf dan ampun pada suami dan ibuku. Keduanya saat itu menemaniku di ruang bersalin. Alhamdulillah yang keluar dari mulutku kalimat-kalimat yang baik, bukan umpatan. Konon katanya ada yang suka menyebut-nyebut kata-kata tak pantas saat mulas.

Kurang lebih satu jam setengah dari mulas menggila itu, datanglah dokter anastesi. Dia datang terlambat karena macet di jalan. Dokter Panca namanya. Dia menyuntik bagian tubuh di sekitar tulang punggungku. Namanya suntik ILA atau lebih dikenal suntik anti sakit.

Benar saja. Begitu disuntik, aku langsung lemas dan tertidur. Aku baru bangun sekitar pukul 18.00. Kulihat hanya ibuku dan seorang bidan yang menemani. Suamiku rupanya tengah mencari penjual makanan dan membeli makan malam untuk ibuku yang sedari siang belum makan.

Akupun belajar mengedan. Rupanya suntik ILA tidak menyebabkan aku berhenti berkontraksi. Hanya tidak terasa. Beberapa kali aku belajar lantas bidan-bidan itu keluar ruangan. Tak lama datanglah dokter Okky, dokter kandunganku bersama dua orang bidan.

Setelah menyapa, dia berkata, "Oke, Rim. Kita lihat air ketubannya ya. Kalau keruh kita lanjut normal tapi kalau hijau, terpaksa kamu ta caesar". Terus terang aku kesal mendengarnya. Setelah melawan mulas yang tiada terkira, masa iya akhirnya aku harus caesar juga? Tapi itu semua langsung hilang saat ketubanku dipecahkan. Air ketubanku berwarna keruh, bukan hijau. Maka akupun diupayakan melahirkan normal. Alhamdulillah..

Allah memang Maha Pengasih dan Penyayang. Ia juga Maha Pengabul Doa. Tidak lama, hanya sekitar lima kali mengedan anakku lahir dari rahimku. Tali pusatnya melingkari leher dua kali. Anakku normal, laki-laki dengan berat 3,23 kg dan panjang 48 cm. Bayi terindah yang pernah aku lihat. Namanya Malik Muhammad Faiz, pemimpin terpuji nan beruntung. Kami memanggilnya Faiz, manusia beruntung.

Aku tak diperkenankan menemui bayiku. Sementara bayi dibersihkan, aku mendapatkan jahitan. Aku juga tak boleh bangun dari tempat tidur lantaran ILA. Larangan ini berlaku sampai keesokan pagi.

Apa daya diri ini tak boleh bertemu anak tercinta. Padahal memegangnya pun aku belum sempat. Aku tak bisa tidur semalaman. Anakku malam-malam menangis. Aku yakin sekali itu suara anakku karena hanya ada dua bayi ketika itu, bayiku dan seorang bayi perempuan. Tangisannya terdengar lebih kelaki-lakian. Sok tahu yak hehe...

Begitu pagi menjelang dan diperbolehkan bangun, buru-buru aku mandi dan menemui puteraku. Ya Allah betapa lucunya anakku. Cakep dan menggemaskan.

Anakku saat itu sedang dimandikan. Setelah selesai, bidan memberikannya padaku dan diminta untuk disusukan. Kami berdua mencobanya di kamar. ASI-ku belum juga keluar. Anakku menangis. Aku kesakitan. Bidan mengatakan, tidak apa-apa. Aku diminta terus melakukannya setiap kali dia menangis. Katanya sama-sama belajar. Dia belajar menghisap, aku belajar menyusui. Lama-kelamaan akan keluar dengan sendirinya. Bayi pun tak sedang kekurangan nutrisi karena masih ada sisa dari dalam kandungan. Jadinya tidak perlu khawatir. Kata bidan, biasanya kondisi ini berlangsung sampai empat hari.

Hari itu sampai malam hari bayiku di kamar bersamaku. Aku tak menyerahkannya ke ruang bayi. Aku memang lelah dan butuh istirahat tapi rasanya enggan jauh dari anakku. Dia kami tunggu sejak menikah 31 Maret 2007.

Semalaman bayiku menangis karena ASI-ku tak kunjung keluar. Akupun kesakitan karena belum pernah mengalami hal ini. Payudaraku serasa mau copot saking kerasnya anakku berupaya. Sampai-sampai bidan mendatangi kamarku dan menawarkan agar bayi kami beristirahat di kamar bayi sehingga aku juga bisa beristirahat. Aku menolaknya. Aku masih mau berusaha dan kuyakin bayiku juga. Kami sebelumnya sudah sama-sama berup