Sabtu, 07 Juni 2014

Menghargai Hasil Sendiri

Di hari terakhir pameran buku 1 Juni lalu, saya berkunjung ke Istora bersama suami dan Faiz, anak kami. Di sana, Faiz melukis kaos di stand Wisata Edukasi ditemani abahnya. Sementara saya berkeliaran mencari buku.

Faiz (4 tahun) memilih kaos bergambar Mickey Mouse. Karena sudah hari terakhir, kaos paling kecil yang tersedia berukuran M. Tak apalah yang penting dia senang. Karena sebenarnya, dia mau diajak ke pameran buku berharap bisa bermain perosotan, lompat balon, menempel di dinding ala Spiderman, dan naik kereta,-seperti yang dilakukannya ketika pameran buku di tempat yang sama dengan penyelenggara berbeda beberapa bulan sebelumnya.

Di rumah, Faiz juga sesekali bermain cat air. Kebiasaan dia adalah mencampurkan semua warna. Jadi, meskipun awalnya satu bentuk gambar diberi satu warna, pada akhirnya warna semua gambar akan serupa. Pasalnya ia campuradukkan warna-warna tersebut.

Begitu pula yang terjadi saat mewarnai kaos. Mickey Mouse pada akhirnya memiliki warna yang senada dengan gambar awan dan tanaman.

Ketika sedang mewarnai, abahnya bertanya, "Kenapa Mickey mukanya hijau?"
"Karena Faiz suka hijau."
"Kenapa awannya warnanya begitu?" (abu-abu)
"Karena sedang mendung, mau ujan."

Mewarnai Mickey berlangsung cepat lantaran empat warna yang diberikan -merah, kuning, hijau, biru- ia campurkan dan coretkan pada kaos. Maka ia meminta satu kaos lagi dengan gambar berbeda, Angry Bird. Lagi-lagi cat warna ia campurkan dan Angry Bird memiliki warna serupa Mickey Mouse. Yah sudahlah.

Sesampainya di rumah, Faiz ingin mengenakan kaos-kaos tersebut. Karena ia mudah gatal-gatal, maka saya menjanjikannya keesokan harinya agar kaos itu dicuci dahulu. Benar saja. Seperti ada alarm, esok harinya ia langsung menagih janji. Kaos Mickey Mouse ia kenakan dengan penuh percaya diri. Meskipun warnanya butek dan coretannya tidak rapi. Bahkan ukuran kaosnya sangat kebesaran. Saya menggulung lengannya dan melipat bagian bawah kaos. Begitu pun hari berikutnya giliran kaos Angry Bird. Dengan suka cita, ia bercerita dari mana kaos itu berasal dan siapa yang mewarnainya.

hm...keren! 
Menghargai diri sendiri ★★★


Jumat, 24 Januari 2014

Di Sini Banjirnya di Lantai Atas

Ada kejadian tak lazim saat bencana banjir melanda Jakarta kemarin. Jika biasanya air banjir meluap dari bawah ke atas, maka di rumah kami justru banjir terjadi di lantai atas saja. Catat, di lantai atas!

Ceritanya, satu malam suamiku pulang kerja. Saat itu sudah empat hari kita tidak terang-terangan. PLN mematikan arus listrik karena tetangga di sekitar kami, yang tinggal di daerah yang lebih rendah, sudah kebanjiran. Bervariasi, yang tertinggi merendam satu lantai rumah. Maka kamipun ikut terkena pemadaman. Suami yang hendak berganti pakaian mendekati lemari. "Lo, kok basah?" Separuh kamar kami tergenang air. Becek. Di luar hujan terdengar agak deras.

Maka pagi hari kasur kami yang berat itu saya berdirikan ke dinding kamar. Air yang menyerap perlahan turun. Saya juga menyetrikanya untuk mempercepat pengeringan. Di luar, langit tak bercahaya dan gerimis. Pengering rambut saya sudah tak memiliki panas yang kuat. Bukan pengering jadinya malah penghangat. Di bagian luar dinding dipasangi terpal. Kebetulan, tetangga di sebelah rumah sedang membangun rumah kos dua lantai. Mereka baru saja meratakan bangunan lama dan mulai membangun yang baru. Tepat di luar dinding kamar kami tak terdapat bangunan apa-apa. Alhamdulillah saya bisa mengeringkan dua kali, pagi dan sore saat genset dinyalakan untuk kurun dua sampai tiga jam.

Malam harinya saya baru mengeloni anak. Sekitar sepuluh sampai lima belas menit terdengar suara hujan sangat deras lalu berhenti. Tiba-tiba terdengar suara kakak ipar saya memanggil kakak ipar saya lainnya (kami hidup beramai-ramai dalam satu rumah). Di lantai bawah, di tempat penyimpanan helm yang persis di bawah tangga, terdapat aliran air dari atas. Diperkirakan air datang dari kamar mandi lantai atas yang bersebelahan dengan kamar tidur saya. Ternyata tidak. Air itu datang dari kamar saya. Air sudah semata kaki. Kasur kami yang memang tanpa ranjang itu kembali menyerap air. Lebih dahsyat dari sebelumnya.

Malam-malam kami kerja bakti. Saya ungsikan anak ke kamar kakak ipar. Kasur berat terpaksa diberdirikan lagi. Barang-barang yang memang tersimpan ala kadarnya (baca: berantakan di lantai)diangkut-angkuti ke luar kamar. Saya sibuk mengungsikan buku. Sebagian disimpan di bagian bawah lemari yang terbuat dari papan kayu buatan. Jadi kemungkinan rapuh atau menyerap air sangat besar. Alhamdulillah buku-buku itu aman.

Ternyata air datang dari pojok kamar yang berbatasan dengan tetangga. Air mengalir karena ada genangan di banguan sebelah dan mengalir ke kamar kami. Pasalnya ada lubang kecil yang timbul akibat proses merubuhkan bangunan. Belum lagi hujan angin yang semakin mempercepat rembesan dan aliran air dari luar ke dalam kamar.

Alhasil kembali saya mengeringkan kasur yang berat itu. Saya setrika lagi. Untungnya, listrik sudah menyala. Jadi saya bisa leluasa menyetrika kasur. Sampai saat ini matahari masih malu-malu bersembunyi di balik awan. Awan-awan senang bergerombol menutupi birunya langit. Angin masih setia menemani hujan.

Kamar kami perbaharui dari dalam. Kami cat ulang dengan menambahkan anti air di sisi yang bersebelahan dengan tetangga. Semoga tidak banjir lagi.

Apa rasanya enam hari tanpa listrik? Hm...silakan saja dibayangkan. Kami mengandalkan listrik untuk air bersih. Di rumah ini ada 15 jiwa. Sebesar apa kebutuhan kami akan listrik? Dan jika listrik tidak menyala maka... :)

Sabtu, 19 Oktober 2013

Si Manis dan Si U (Dongeng Duet Ibu dan Faiz)

Saya baru cabut gigi belakang. Jadinya enggan bannyak membuka mulut. Biasanya, saya membacakan buku cerita tapi kali ini saya ajak Faiz bercerita. Bukan "membacakan" buku cerita tapi bercerita sebelum tidur.

Inilah dongeng duet hasil tanya jawab:

"Faiz mau cerita tentang apa? Kambing?"
"Apa ya? Kucing aja deh!"
"Oke, ceritanya gimana?"
"Nggak tahu Faiz."
"Kucingnya warna apa?"
"Hitam."
"Namanya siapa?"
"Masa kucing pakai nama?"
"Iya, namanya siapa?"
"..."
"Kucing hitam bernama Si Manis."
"Hehehe Si Manis."
"Kucingnya suka makan apa?"
"Tulang!"
"Tulang apa?"
"Tulang ayam!"
"Kucing hitam bernama Si Manis suka makan tulang ayam."
"Kok kucing ga suka makan daging?"
"Oh, suka. Kan di pinggiran tulang ada dagingnya kecil-kecil."
"..."
"Selain tulang, kucing suka makan apa?"
"Apa ya?"
"I..."
"I..."
"Ikan. Kucing hitam bernama Si Manis suka makan tulang ayam dan ikan. Ia makan sangat lahap."
"Makanannya abis."
"Iya, habis tak bersisa. Habis makan, kucingnya ngapain?"
"Main!"
"Main apa?"
"Main golf!"
"Oke. Setelah makan, Si Manis bermain golf bersama...? Bersama siapa?"
"Bersama teman kucing!"
"Iya, namanya siapa?"
"Namanya..."
"Gimana kalau namanya... Eh, kucingnya warna apa?"
"Biru!"
"Oh biru, ya udah namanya Si Biru."
"Eh namanya U aja deh!"
"Ya udah. Setelah makan, Si Manis bermain golf bersama temannya bernama U. Mereka bermain golf di... Di mana?"
"Di lapangan sepak bola!"
"Mereka bermain golf di lapangan sepak bola. Terus?"
"Udah ah gitu aja."
"Setelah selesai bermain, mereka pulang lalu tidur."
"Hehehe."
"Di rumahku ada seekor kucing hitam bernama Si Manis. Ia suka makan tulang ayam dan ikan. Ia makan lahap sekali hingga habis tak bersisa. Setelah selesai makan, ia bermain golf bersama temannya si kucing biru bernama U. Mereka bermain golf di lapangan sepak bola. Setelah selesai bermain, mereka pulang ke rumah masing-masing lalu tidur karena kelelahan."
"Hehehe."

Itulah dongeng duet kami. Semoga Faiz suka sehingga ada duet-duet selanjutnya. Atau malah dia bisa bersolo dongeng hehe.

Rabu, 09 Oktober 2013

Sopan Dong, Miss!

Kemarin saya menonton acara The Apartment: Design Your Destiny. Ini adalah acara reality show pencarian bakat di bidang desain apartemen. Ya, ajang pencarian bakat sekarang sudah banyak jenisnya. Setelah menyanyi, bermain peran, memasak, dan sekarang mendesain.

Acara ini diadakan di Kuala Lumpur, Malaysia. Sembilan grup yang beranggotakan masing-masing dua orang, diberi kesempatan mendesain sebuah apartemen. Tantangan berbeda di tiap episodenya. Mulai kamar tidur, kamar mandi, ruang tamu, kamar anak, dapur, taman. Mereka mencoba peruntungan menjadi designer amatir terbaik.

The Apartment ini sudah berhasil meloloskan dua pasangan designer amatir. Kali ini di session 3 ada peserta asal Indonesia. Mereka adalah Ines dan Jennifer. Jika peserta lain mencantumkan profesi atau status mereka di bawah nama yang tampil di layar kaca, Ines dan Jennifer mencantumkan "Miss Indonesia" dan "Runner Up Miss Indonesia". Mereka pemenang kontes tersebut tahun lalu.

Tantangan pertama mereka adalah mendesain kamar tidur yang romantis. Pemenangnya adalah Yvette dan Sonya. Kemudian tantangan ke dua mendesain kamar mandi. Saat sebelum berbelanja dan mulai bekerja, duo Miss Indonesia masuk ke apartemen Yvette dan Sonya tanpa permisi. Mereka ingin melihat seperti apa desain pemenang tantangan sebelumnya. Sontak si pemilik apartemen mengusir mereka dengan halus. "Sudah tiga detik, silakan keluar!" Si duo Miss ini pun menurut dan berdalih mereka hanya ingin melihat bukan mau mencontek. Lalu pemilik apartemen berkata ke arah kamera (artinya kepada pemirsa tentu saja) kurang lebih seperti ini, "Kami tahu di beberapa kebudayaan, hal seperti itu lazim. Memasuki properti orang tanpa diundang. Kebudayaan vampir."

Pedas ya jendral? Tapi saya setuju dengan Yvette dan Sonya. Jangankan untuk orang timur yang konon lebih santun dibandingkan orang barat. Orang-orang barat pun akan menilai sama bahwa duo Miss Indonesia itu tidak sopan. Apa sulitnya sih meminta izin terlebih dahulu? Kalaupun tak diizinkan, itu adalah hak pemiliknya. Tapi nyelonong bukanlah tindakan terpuji.

Yang menyebalkan buat saya, mereka menggunakan gelarnya dalam kompetisi tersebut. Seperti kita tahu jika gelar-gelar seperti itu dibawa ke luar negeri, akan menjadi identitas negara yang diwakilinya. Apapun prilakunya menjadi representasi prilaku orang-orang di negeri asalnya. Oke, jelas saya tidak sependapat dengan hal-hal seperti ini. Tapi begitulah adanya. Dan si duo Miss Indonesia ini berprilaku seenaknya sambil menyandang gelar itu.

Haduh...

Saya sih lebih senang bila mereka tak membawa gelar tersebut dalam kompetisi ini. Toh tak ada relevansinya.

Meski begitu, saya tetap mendukung mereka dalam mendesain apartemen. Menurut saya, duo Miss ini punya kemampuan yang baik. Akan lebih cantik lagi kalau tetap bersikap sopan ya Mbak...eh Miss...

Sabtu, 20 Juli 2013

Welcome Home Mr. Nice Guy!

AlhamdulillaaHirabbil'aalamiin... Setelah 45 hari akhirnya bapak sudah berada di rumah lagi. Terima kasih doanya kawan-kawan semua...

Jadi, begini ceritanya...

Tanggal 4 Juni 2013 bapak kami bawa ke RS Kebon Jati Bandung setelah sebelumnya nyaris 24 jam kejang-kejang karena tumor di otaknya. Dalam kondisi kejang, bapak kami angkut dengan ambulance. Setelah dari IGD, bapak dimasukkan ke ruang ICU.

Alhamdulillaah kejang bapak berkurang drastis. Bapak bisa segera sadar. Bapak masih dapat mengingat kami dengan baik. Kondisi kesehatan bapak secara keseluruhan terus dipantau. Diketahui bapak ternyata juga mengidap diabetes dan kondisi paru-parunya terganggu. Lainnya, sehat.

Dokter Benny AW SpBS menyatakan bapak harus segera dioperasi. Tumor di otaknya sudah membesar. Kami diminta berunding untuk menyiapkan diri, terutama mental. Dia menegaskan bapak akan menghadapi operasi dengan risiko besar. Kami sekeluarga harus ikhlash.

Selama menunggu kondisi bapak stabil, kesiapan kami pun menjadi tarik-ulur. Satu sisi ingin mengangkatnya tapi lain sisi tak ingin menghadapi operasi besar. Di sinilah kami perlu saling menguatkan. Kami pasrahkan pada Yang Maha Kuasa. Apapun putusanNYA, kami berupaya menerimanya sebagai yang terbaik.

Sejak bapak dinyatakan mengidap tumor di otaknya (dulu masih berupa flek yang terpisah di tiga titik), kami memang menghendaki operasi. Namun karena bapak sendiri yang mundur, kami tak kuasa memaksa. Kini setelah kurang lebih 11 tahun pasca diagnosa, ketiga titik sudah menyatu. Dokter menyatakan sudah seukuran mangga kecil. Mau tak mau harus diangkat. Berulang kali kami diminta siap dengan kondisi terburuk.

Kami juga mendapat beragam imbauan dari berbagai pihak agar mengupayakan pengobatan lain sebelum operasi. Tanpa diminta, banyak informasi pengobatan alternatif berdatangan. Kami diam saja dan tersenyum menolak. Duhai kawan dan kerabat yang berbaik hati, maafkan kami. Bukan kami tak menerima niat baik kalian. Cara-cara yang kalian tawarkan sudah pernah kami upayakan jauh sebelum bapak didiagnosa mengidap flek di otaknya. Lebih dari 20 tahun lalu (saat saya masih berseragam putih-merah) bapak mulai menunjukkan gejala gangguan kesehatan otak. Lantaran enggan dibawa ke dokter, kami pun menjalani bermacam pengobatan alternatif. Bahkan saat bapak sudah diketahui ada flek di otaknya dan dokter menyuruh operasi, kami masih berupaya dengan cara-cara itu lantaran bapak menolak operasi. Berharap ada yang bisa menyembuhkannya. Namun tidak. Ya, barangkali memang bukan jalan bapak mendapatkan kesembuhan via pengobatan alternatif.

Sejak 11 tahun lalu dr Benny AW SpBS sudah menyatakan kemungkinan seperti apa yang akan terjadi pada bapak bila tidak dioperasi. Jadi, kami tak begitu kaget ketika bapak suka kejang-kejang. Dia juga menyatakan tumor ini seiring waktu akan membesar.

Ada pula saran untuk mengganti operasi dengan meminum obat ini itu yang intinya menjaga agar bapak tak sering kejang. Memberitahukan bila kondisi bapak seperti memakan buah simalakama. Bila dioperasi, kemungkinan terburuk adalah kematian. Dan jika selamat, kemungkinannya adalah koma. Bila tidak dioperasi pun lama-lama bapak akan koma karena kejang-kejang tak bisa dihindarkan. Kondisi yang sama-sama tak menyenangkan. Dan bismillaah, kami sepakat bapak dioperasi. Ini adalah upaya kami untuk kebaikan bapak, kesembuhan bapak.

Kemudian dokter merujuk bapak untuk mendapat tindakan operasi di RSHS karena perlengkapan pasca operasi risiko tinggi di RS Kebon Jati tak memadai. Pindahlah bapak ke RSHS pada 17 Juni 2013. Setelah sehari di RGB, bapak ditempatkan di ruang rawat inap Bougenville.

Kami maklumi jika RSHS adalah rumah sakit pendidikan. Maka tak heran begitu banyak dokter residen yang menyambangi kami. Selain itu beragam dokter spesialis juga memeriksa bapak. Di sini pun bapak masih dalam observasi. Kondisi bapak naik turun bahkan pernah satu kali kejang lagi. Sampai kemudian bapak dinyatakan dalam kondisi stabil.

Pada Selasa (9 Juli 2013) pagi bertepatan dengan 30 Sya'ban 1434 bapak pun masuk ruang operasi. Nyaris 12 jam tim medis dengan ketuanya dr. Roland Sidabutar SpBS mengangkat tumor padat seberat sekitar 7 ons dari otak bapak. Lalu bapak mendapat perawatan di ruang ICU.

Inilah masa-masa kami dalam penantian panjang. Dokter sudah memberitahukan kemungkinan yang bisa terjadi. Jika melewati masa operasi, kondisi bapak bisa jadi menurun. Penglihatan, penciuman, pendengaran, serta memori bapak kemungkinan terganggu karena tumor terletak di bagian depan kanan otak. Diprediksi bapak akan siuman dalam kurun 2-3 hari dengan masa kritis satu pekan.

Namun Allah berkehendak lain. Dua hari kemudian bapak sadar. Kondisi fisiknya membaik walau emosinya tak terkendali. Alhamdulillaah hal itu tak berlangsung lama. Hari berikutnya bapak tak lagi emosional. Dan yang membuat kami haru, bapak masih ingat kami semua. Bukan hanya kami keluarga inti. Kerabat dan tetangga yang berkunjung pun sebagian besar masih diingat bapak. Penglihatan dan pendengaran bapak pun relatif baik. Hanya indera penciumannya saja yang memang sedari sebelum operasi sudah minim dayanya. Karena kondisinya yang membaik, bapak pun dipindahkan kembali ke ruang rawat inap.

Dokter residen maupun spesialis kembali menyambangi. Bapak diminta mengikuti perintah yang diajukan. Mengangkat tangan, mengarahkan mata, mengangkat kepala, menggeser badan, semua dapat bapak lakukan. Hanya saja kaki kiri bapak belum bisa digerakkan sendiri. Hal ini karena semasa bapak sering kejang, kaki kiri selalu menekuk. Tugas kami menggerak-gerakkannya sebagai stimulasi. Begitupun anggota tubuh yang lain agar optimal.

Maka pada Jumat (19 Juli 2013) bapak pun kembali ke rumah. Saat ini bapak dalam kondisi baik. AlhamdulillaaHirrabbil'aalamiin.. Tak terlukis bagaimana gembiranya kami bisa bersama-sama kembali di rumah. Puji syukur padaMU ya Allah..

Oh ya kami sempat diperlihatkan beberapa gambar saat pengambilan tumor. Namun kami tak diperkenankan mengcopy maupun melihat secara fisik seperti apa tumor yang berdampingan dengan bapak selama bertahun-tahun. Tak apalah. Itu kode etik kedokteran barangkali. Semoga bermanfaat untuk penelitian.

Terima kasih kepada kerabat dan kawan semua atas doa dan perhatiannya. Terima kasih juga untuk tim medis yang merawat dan mendampingi dalam proses pengobatan bapak selama di rumah sakit. Maaf, saya tak hafal namanya satu per satu. Yang pasti Allah tahu dan insya Allah dicatatkan sebagai amal soleh kalian. Aamiin..

Tugas kami masih panjang. Mohon doa agar kami terus memiliki kesabaran dan keikhlashan.

Welcome home, Mr. Nice Guy!

Jumat, 07 Juni 2013

Mr Nice Guy, We Love You

"Mr.Nice Guy"; begitu kalimat yang adikku tuliskan saat mengirimi sebuah foto via ponsel. Mataku membasah. Ini adalah entah kali keberapa dia mengirimiku foto lelaki yang kami panggil "bapak".

Beberapa di antaranya adalah foto yang tak pantas bagi saya untuk dibagikan. Sebagai gambaran, foto-foto itu memperlihatkan kondisi bapak setelah bergelut dengan rasa sakitnya. Terkadang bapak harus terantuk meja atau kursi atau langsung terjatuh ke lantai tanpa sempat bersangga pada apapun di sekitarnya.

Foto terakhir yang kuterima bapak sudah dipasangi berbagai macam selang dan kabel di ruang ICU rumah sakit. Penyakit bapak sudah pada puncaknya. Nyaris 24 jam dalam sehari bapak mengalami kejang. Ketika saya tiba di Bandung dan menengoknya langsung, kejang-kejang bapak sudah jauh berkurang. Bahkan siang tadi saya sempat berbicara dengan bapak. Alhamdulillaah bapak masih ingat saya dan menatap saya. Bapak juga sudah mulai bisa makan dan minum tanpa slang.

Saya sempat bertemu dr Benny AW SpBS yang menangani bapak. Setelah kunjungannya ke ICU, dr Benny menyatakan kondisi bapak relatif stabil. Jika sampai Ahad nanti kondisinya tetap stabil maka akan direncanakan operasi pengangkatan tumor otaknya yang konon sudah sebesar buah mangga kecil. "Ini risikonya besar, ya. Pembuluh darahnya banyak. Jadi saya lihat dulu, ya." Kata dokter.

Siapkah kami?

Sudah 11 tahun sejak pertama kali bapak didiagnosis mengidap tumor otak. Saat itu masih berupa flek di tiga titik pada otaknya. Kini ketiganya sudah menyatu.

Ketika itu kami semua sudah siap. Bahkan ketika dokter menyatakan kemungkinannya 50:50 pun, kami pasrah. Namun bila yang bersangkutan enggan menjalani operasi, kami bisa apa? Kami pun harus siap dengan kemungkinan terburuk yang sudah dikatakan dokter bila tak menjalani operasi.

Sebelas tahun bukan waktu singkat untuk bisa hidup berdamai dengan tumor otak. Kami salut dengan kesabaran dan kekuatan bapak menahan rasa sakitnya. Bapak kemudian mengajukan pensiun dini karena sudah tak bisa lagi produktif di kantor. Kondisi bapak perlahan menurun dengan semakin seringnya mengalami kejang.

Kami berupaya juga pengobatan alternatif. Ya, tak berjodoh. Tak ada perubahan apapun pada kondisi bapak. Akhirnya kami pun bersahabat dengan sel abnormal dalam diri bapak itu. Sampai kemudian bapak pasrah kami bawa ke rumah sakit.

Kami mohon doa dari semua kawan. Semoga diberi kelancaran proses menuju operasi, selama operasi, sesudah operasi. Semoga bapak diberi kekuatan dan kesabaran serta keikhlashan.

Bapak Adman Sanmihardja, kami semua menyayangimu...selalu...

Senin, 13 Mei 2013

Cerita di Balik Derita

Siapa sih yang ga kalut menghadapi anak sakit? Saya sudah pasti karena saya tergolong panikan. Kalau anak sakit, biasanya saya berusaha menenang-nenangkan diri. Memberi tahu diri sendiri jika anak saya baik-baik saja, tak mengalami sakit yang berat.

Sampai saat ini, sudah dua kali anak saya dirawat inap di rumah sakit. Pertama saat berusia 23 bulan (masih ngASI) dan kedua usia 38 bulan (sudah nyapih). Semoga tidak ada lagi "jajan" ke rumah sakit macam ini.

Saya tidak akan bercerita tentang masa sedih, galau, risau menghadapi anak sakit. Kurang lebih sama lah dengan rasa yang dialami banyak orang. Saya justru akan membagikan masa menyenangkan selama anak saya sakit. Benar, ada hal lucu yang membuat saya tertawa selama ia dirawat di rumah sakit.

Dua kali dirawat inap, dua kali pula ruangan tempat Faiz menginap penuh dwngan nyanyian. Saat pertama kali dirawat di rumah sakit di Bandung, lagu favorit Faiz adalah "Bintang Gede". Ini bukan lagu baru atau lagu ciptaan siapa-siapa. Ini adalah lagu yang liriknya sedikit diubah. Kata "kecil", "biru", dan "banyak" dalam lagu "Bintang Kecil" ciptaan Daljono diganti dengan kata "gede". Jadinya;
bintang gede di langit yang gede
amat gede menghias angkasa
aku ingin terbang dan menari
jauh tinggi ke tempat kau berada.

Pasien yang ada di seberang kami senyum-senyum tiap kali saya bernyanyi. Entah menertawakan liriknya yang ajaib atau suara penyanyinya yang aduhai :-P. Oiya, saat itu Faiz enggan bernyanyi tapi meminta ibunya menyanyikan lagu kesukaannya itu. Demi anak, apa sih yang nggak meski harus menahan malu. Hahaha...

Nah kali kedua jadi pasien rawat inap di Jakarta, Faizlah yang bernyanyi. Berulang-ulang ia menyanyikan lagu "Tik Tik Bunyi Hujan" ciptaan Ibu Sud dengan suara lantang. Tiga ibu pendamping pasien lain di ruangan yang sama sibuk menyuarakan "sssttttt". Maklum karena Faiz bernyanyi di tengah malam saat pasien lain beristirahat. Ketika itu, ia rajin bernyanyi kala matanya masih melek. Sampai-sampai seorang perawat bertanya.
"Ade pinter nyanyinya. Udah sekolah sih ya?"
"Belum." Jawab saya.
"PAUD, gitu?"
"Belum."
"Oh.."kata dia dengan wajah yang tampak bingung.

Sepulang dari rumah sakit, Faiz jadi punya kebiasaan baru. Dia minta makan nasi putih tanpa lauk apapun walau hanya secuil abon bahkan garam. Nasi putih saja. Dan saya sadari sekarang kalau dia merasa tak enak badan, menunya pun sama; nasi putih tok seperti beberapa hari lalu saat ia masuk angin. Lauk yang disertakan dalam piring utuh tak tersentuh. Konsumsi susunya pun berkurang drastis. Ia hanya minum air putih. Oh ya selama ini Faiz hanya menyukai dua jenis air saja; susu dan air putih.

Entah mengapa Faiz mutih begitu. Padahal selama sakit, ya saya tak berubah tetap menawarkan dan menjejali dia dengan beragam makanan seperti keadaan normal.

Barangkali itu cara dia menetralisasi tubuhnya. Bukankah orang-orang yang suka mutih untuk keperluan tertentu tujuannya untuk netralisasi diri? Faiz mungkin merasakan enak di badan usai memakan nasi putih dan minum air putih saja. Hanya saja saya heran karena di rumah nggak ada yang suka mutih untuk kepentingan apapun. Anakku cerdas ya tahu kebutuhan tubuhnya sendiri ;-)

Jumat, 19 April 2013

Ibuku Rangking Satu

Selembar sobekan buku tulis menyembul di bawah televisi. Kuambil dan kubaca. Tak terasa bibir ini menyungging.  

Bahasa Inggris
Mangkok=bowl
Bafelo=banteng
Danau Tempe ada di Sulawesi.  

Tulisan tangan dengan tinta pulpen warna hitam dan biru. Campur aduk tak rapi di sana. Terlihat jelas ditulis dengan tergesa-gesa. Di beberapa bagian ada yang tintanya buram. Pulpen murah tintanya tak pernah lancar.  

"Ibu belajar Bahasa Inggris?" tanyaku pada ibu yang sedang memotong sayuran di sebelahku. Ibu tersenyum malu seraya melihat kertas di tanganku.
"Nggak. Itu mah Rangking Satu," jawabnya. Aku ikut tersenyum.
"Bagus, Bu."  

Aku tahu bila ibu adalah fans acara kuis Rangking Satu di Trans TV. Saban pagi bila aku berkunjung ke rumah orang tuaku di Bandung, ibu stand by mengikuti acara berpeserta puluhan orang itu. Ruben Onsu dan Sarah Sechan bergantian memberi pertanyaan. Sogi Indra Duaja dan Pak Tarno menjadi pendamping di sesi praktikum.  

Ibu saya memang bukan orang yang makan bangku sekolahan. Tercatat hanya punya satu ijazah; ijazah sekolah dasar. Maka tak usah heran bila melihat tulisan tangannya yang tak rapi. Tak usah tertawa bila salah mengeja huruf apalagi untuk merangkai kata dalam bahasa asing. Itu saja sudah baik karena mengandalkan mulut Ruben dan Sarah. Seorang kawan yang konon bisa membaca aura mengatakan, salah satu titik terkuat ibu saya adalah kemauannya untuk belajar.  

Saat itu saya mengiyakan. Ibu memang sedang senang belajar ilmu agama. Ia mengikuti beberapa kelompok belajar mengaji kitab suci. Dari mulai belajar mengaji indah (qiraat), tafsir, fiqih, memandikan jenazah, sampai belajar berbicara di muka umum. Ibu saya tak punya target apapun untuk menjadi apapun. "Suatu saat mungkin diperlukan." Begitu katanya selalu.  

Perlahan majelis yang diikutinya berkurang sampai akhirnya hanya majelis ilmu di masjid sekitar rumah saja yang masih rutin ia hadiri. Majelis di masjid raya sudah berhenti. Kondisi rumah tangga yang berbeda membuatnya harus mau berhenti berlari.  

Tapi rupanya semangat ibu tak pernah pudar. Dahaga ilmunya luar biasa. Fasilitas yang tersedia jadi sasarannya. Ibu tak paham mengoperasikan komputer maka televisilah  yang jadi teman baiknya. Sambil beraktivitas di dapur atau mencuci pakaian di sepetak tempat cuci, ibu menyalakan televisi. Tausiyah Ustadz Yusuf Mansur dan Mamah Dedeh (ditayangkan di dua stasiun televisi secara beriringan) menemani pagi harinya usai mengaji dan solat subuh. Setelah itu ibu akan senam pagi di lapangan kecamatan atau puskesmas barulah menonton acara kuis Rangking Satu sepulang berolah raga.  

Kubalik sepotong kertas itu. Ada beberapa catatan ayat kitab suci di sana. Surat dan ayat yang mengacu pada tema tertentu. Ibu pasti menuliskannya bila tidak sambil mencuci atau memasak.   Kukembalikan kertas itu ke tempatnya semula. Ibu tak kuminta menuliskannya lagi di buku tulis khusus. Sepertinya aku tahu mengapa catatanku dulu semasa sekolah selalu tak rapi. Seperti ibu, catatanku kutulis ala kadarnya Dan kadang tak jelas urutannya.  Tapi dengan susunan yang acakadul itu justru lebih aku ingat isinya.  

Aku harap aku bisa seperti ibu. Punya semangat tinggi untuk belajar dan menitinya meski sudah usia senja. Semangat adalah bibit utama dalam kehidupan. Ia tak boleh sampai mati. Karena jika ia mati, hidup tak berarti.  

I love you, Ibu Atisah... Ibu pantas ranking satu.

Kamis, 14 Februari 2013

ke man

Sudah beberapa hari ini rasanya ga semangat. Ke mana dia pergi? Mengaa tidak pamit? Wahai semangat, segeralah kembali. Aku rindu. Sangat rindu

Sabtu, 22 Desember 2012

Mewariskan Air Bersih dan Sehat

Pertama kali ke Jakarta tahun 2005, permasalahan utama saya (selain udara yang panas) adalah air. Kondisi air tanahnya menyedihkan. Di kos-kosan saya membungkus keran dengan kain. Tak perlu menunggu sampai sebulan, kain itu sudah menghitam. Padahal saya tinggal di wilayah Jakarta Selatan yang konon kondisi air tanahnya lebih baik dibandingkan wilayah Jakarta lainnya. Ketika saya pindah ke rumah mertua di wilayah Jakarta Pusat, kondisinya lebih memprihatinkan. Kain pembungkus keran lebih cepat dua kali menghitam.

Buat saya, hal itu mengerikan. Bayangkan saja saya berasal dari daerah pegunungan di Jawa Barat. Tak perlu keran dibebat layaknya lutut terluka hanya untuk mendapatkan air bersih (dulu, ya bukan sekarang). Air mengalir dengan jernihnya. Kalaupun bermasalah, biasanya lantaran ketidaklancaran distribusi. Di Bandung kami menggunakan jasa PAM sebagai penyedia air bersih.

Jangan harap kami di Jakarta mengupayakan hal serupa. Di sini penyediaan air bersih oleh PAM tidak bisa diandalkan. Selain distribusi yang tak lancar, kualitas air bersihnya bisa dibilang nol besar. Airnya tak layak pakai. Paling hanya untuk mandi dan mencuci.

Ipar saya yang tinggalnya berbeda kecamatan sampai menyerah dengan PAM. Kemarin dia akhirnya memasang pompa air tanah dan mematikan air pipanya. “Repot, seminggu air nggak nyala. Minta terus sama tetangga, malu. Kasihan juga dianya. Waktu air nyala juga cuma sebentar. Cuma bisa nampung di bak sama ember besar. Itu juga nyalanya jam dua malam. Begadang melulu tiap hari,” keluhnya.

Sudah lebih dari 15 tahun rumah mertua saya mencabut PAM dan menggantinya dengan pompa air tanah bertenaga listrik. Air tanah menjadi sumber segala kebutuhan air dalam rumah tangga, termasuk minum. Kami menggunakan pemurni air (water purifier) sebagai alat bantu penjernih air. Tapi jika saringan sudah menghitam, kami sendiri merasa jijik untuk mengonsumsi airnya. Saringan kami ganti sekitar sebulan dua kali. Karena itulah, kami juga menggunakan air dalam kemasan botol (air galon). Air asli pegunungan yang relatif lebih aman untuk dikonsumsi.


Untuk rumah berpenghuni empat belas jiwa, rata-rata kami membutuhkan dua botol air kemasan per hari untuk minum (jika musim liburan sekolah bisa dua kali lipat). Bila satu botolnya seharga Rp 10.000 maka sehari kami membutuhkan Rp 20.000 hanya untuk minum. Artinya dalam sebulan dibutuhkan Rp 600.000. Angka yang fantastis ya. Jumlah yang sama juga diperlukan untuk membiayai listrik di rumah (kebutuhan tertinggi listrik adalah untuk menghidupkan AC dan pompa air tanah).

Berdasarkan data Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta, 60 persen air tanah di ibu kota sudah tak layak minum. Padahal, tinggal air tanahlah sumber air bersih yang bisa diandalkan oleh warga DKI. Sumber air lainnya sudah tak tertolong lagi. Dari 13 sungai yang mengalir di DKI, hanya dua sungai yang menjadi hak provinsi. Sebelas lainnya diatur negara. Ironisnya, kesemua sungai berstatus tercemar berat. Hal ini menjadi alasan PAM mengenai kualitas air yang didistribusikannya. (bisa dilihat di sini)

Pencemaran air tanah terbanyak dilakukan oleh manusia. Tanpa disadari pencemaran berlangsung setiap waktu melalui limbah domestik rumah tangga dan industri. Jika kegiatan pencemaran terus dilakukan tanpa ada upaya pengurangan (atau mungkin penghentian), bukan hal mustahil air tanah pun kelak tak lagi kita punyai.

Pada umumnya air tanah bergerak relatif lambat dibanding air permukaan. Air tersebut tidak banyak bercampur dengan bahan lain selama pergerakannya sehingga tidak terjadi pengenceran zat pencemar seperti pada air permukaan (sungai, danau, dll). Namun air tanah tidak memiliki akses terhadap udara bebas sebagaimana air permukaan; sehingga oksidasi yang dapat memurnikan dan menetralkan racun pada air permukaan tidak akan terjadi pada air tanah. Karena itulah, pencemaran air tanah pada volume dan konsentrasi yang sama relatif lebih merugikan dibanding pencemaran pada air permukaan. (bisa dilihat di sini)


Kondisi-kondisi seperti ini memunculkan inovasi di berbagai kalangan. Salah satunya Unilever dengan Pureit. Masih ingat dengan percobaan IPA di masa sekolah dasar dulu? Itu lo menumpuk batu, pasir, batu bata, dan ijuk untuk menyaring air? Nah, prinsip kerja Pureit kurang lebih seperti itu. Bedanya, Pureit menggunakan teknologi yang lebih canggih serta menambahkan penyaring bakteri dan kuman. Jadi selain bersih, juga aman dikonsumsi secara langsung.

Pureit melakukan empat tahap penyaringan. Pertama, saringan serat mikro untuk menyaring kotoran yang kasat mata. Kedua, filter karbon aktif untuk menghilangkan pestisida dan parasit berbahaya. Ketiga, prosesor pembunuh kuman untuk menghilangkan bakteri dan virus berbahaya di dalam air. Dan keempat, penjernih untuk menghasilkan air bersih, jernih, tak berbau, dengan rasa alami.

Filterisasi ini menggunakan Germkill Kit yang harus diganti setiap usai memurnikan 1.500 liter air. Uniknya, Germkill Kit ini bekerja secara otomatis. Ada indikator penunjuk kondisi Germkill Kit. Pureit tak dapat mengalirkan air jika Germkill Kit belum diganti dengan yang baru. Jadi, air yang dihasilkan sudah pasti aman. Selain itu, Pureit juga aman di kantong. Tak perlu listrik, pipa, ataupun gas. Tinggal tuang dan minum.

Inovasi sepertinya memang perlu terus diupayakan agar sumber air lestari. Air tanah yang digunakan warga Jakarta sudah sampai pada air tanah dalam. Pasalnya air tanah dangkal sudah tak lagi bisa memenuhi kebutuhan. Selain tak jernih (menurut BPLHD DKI Jakarta air tanah dangkal Jakarta sudah tercemar), kuantitasnya pun tak memadai. Hal ini dikarenakan daerah penyimpan air tanah sudah gundul.

Gunung Gede Pangrango dan Halimun Salak di Bogor, Jawa Barat adalah hutan penyimpangan cadangan air tanah bagi Jakarta. Tapi saat ini keduanya sudah beralih fungsi menjadi kebun sayur. Akibatnya air tak terserap dengan baik ke dalam tanah. Air memang mengalir ke Jakarta namun di permukaan tanah. Bukan sebagai sumber air bersih melainkan air bah. Hal ini diperburuk dengan daerah resapan air di Jakarta yang sangat minim.

Jika diibaratkan kue berlapis, secara umum tanah di bawah kita berpijak memiliki dua lapisan cairan di antara lapisan-lapisan tanah. Satu lapisan cairan dangkal dan satu lagi lapisan cairan dalam. Tebalnya lapisan cairan dangkal lebih tipis dari lapisan cairan dalam. Nah, lapisan cairan dangkal saat ini ketebalannya sudah sangat tipis. Karena sifat cairan adalah mengisi rongga, maka saat cairan tersebut berkurang akan meninggalkan rongga yang menganga. Sementara sifat benda padat (dalam hal ini tanah) membutuhkan penyangga untuk menopang. Manakala cairan di bawahnya berkurang dan meninggalkan rongga, ia akan mendesak ke dasar rongga untuk mencari sanggaan. Itulah mengapa permukaan tanah di Jakarta lama-kelamaan melesak turun.

Saya memang bukan ilmuwan yang bisa melahirkan pemikiran atau inovasi cara mendapatkan/mengelola air bersih. Namun setidaknya saya bisa mengajak untuk hemat dan bijak menggunakan air bersih dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika mandi dan berkakus kita bisa mengukur kebutuhan. Kita sudah sering mandi dan tahu berapa banyak kebutuhan kita (bukan keinginan lo). Tak perlulah berlama-lama dan berbanyak-banyak menggunakan air. Teknik mandi yang efektif dapat memaksimalkan penggunaan air bersih. Begitu juga dengan menggosok gigi. Tak perlu air sampai bergayung-gayung. Kita bisa memaksimalkan segelas air bersih untuk membersihkan gigi dan berkumur.

Yang sering diabaikan adalah menampung air wudhu. Air tampungan tergolong bersih (asalkan air bekas kumur dan membersihkan hidung tidak ikut ditampung). Kita bisa memanfaatkannya untuk membersihkan kendaraan, menyiram tanaman, mengepel lantai, membersihkan jendela, mencuci sepatu dan sandal, atau mencuci keset.

Barangkali sederhana dan tampak kecil. Tapi jika setiap rumah tangga melakukannya, ini bisa jadi hal besar. Kita bisa mewariskan air bersih bagi generasi-generasi mendatang agar mereka bisa hidup lebih baik. Kualitas kesehatan mereka kita tentukan dari sekarang.

Senin, 03 Desember 2012

Faiz Membaca Koran

Koran memang menarik perhatian Faiz (2 tahun 10 bulan). Bukan untuk dibaca melainkan untuk dikomentari. Tentu saja gambarnya, bukan beritanya :)

Halaman olah raga menampilkan gambar atlet tengah berenang. Sambil menunjuk, ia berkata "Orangnya kecebur." Tak lama oma keluar dari kamar mandi usai membersihkan diri. Ia pun berkata, "Oma juga kecebur."

Halaman berikut memperlihatkan atlet sepakbola berlatih. Faiz berkomentar, "Orangnya main bola ga jatuh. Faiz main bola jatuh."
FYI: kebiasaan Faiz setelah menendang bola, terkadang ia menelungkupkan diri di lantai dan menyatakan ia jatuh. Ini meniru pemain sepakkbola saat bertanding di lapangan.

Lalu ia menunjuk sebuah gambar siluet perempuan berambut panjang. Faiz berseru, "Orangnya ga ada matanya!"

Di sebelahnya ada gambar seorang anak perempuan dan ada pula gambar alat suntik. Itu adalah ilustrasi artikel tentang hepatitis. Faiz kembali berseru, "Kakaknya bentol, dicubit."

Ocehan berlanjut. "Ibunya jatuh!" kata dia saat melihat gambar atlet perempuan sedang berlatih bela diri. Posisinya ada di bawah seperti terjatuh.

Kemudian ada gambar atlet sepak bola lainnya. (hm...porsi berita sepak bola di negeri ini sangat banyak ya ketimbang cabang olah raga lain :D) "Bajunya, celananya hijau. Kaus kakinya hijau. Bolanya putih," seru Faiz sambil menunjuk-nunjuk barang yang disebut.

Dan sampailah pada sebuah foto atlet catur Indonesia. Saya lupa namanya yang jelas dia seorang wanita.
"Ibunya ngapain tuh?" tanyanya padaku.
"Main catur."
"Main catur? Ngapain main catur?"

Hadeuh...

Rabu, 07 November 2012

Kumpulan Celoteh Faiz 2012


Monolog

Semut, semut.. Kau di mana? Faiz ke belakang dulu ya.. (sewaktu menemukan semut di tembok tapi ia hendak buang air)

Sepertinya ada yang rusak. Rodanya sepertinya rusak. (main sepeda nubruk tembok)

Faiz pilih yang mana ya? Bingung nih Faiznya. (Faiz membuka kotak mainannya)

Ibu, di mana kau, ibu? Jimjamnya udah selesai. (ibu sedang mencuci dan hanya membolehkan Faiz nonton satu film lagi)

Ibu, mobilnya berdarah! (mobil mainan berwarna putih bergaris merah)

Ibu, ada ondel-ondel! (sewaktu melihat mempelai perempuan pengantin Cipanas keluar menuju kursi akad nikah)

Ibu, pa ogah! (menunjukkan bantal bergambar angry bird)

Ibu, dipoto! (saat wajahnya diterpa semburat cahaya matahari sore dari jendela)


Dialog

+Ibu, ini caladine apa?
-Caladine cair.
+Oh, caladine cair ya. Kirain caladine lotion.

-Faiz sedang apa?
*sisiran*
-Oh sedang sisiran. Emang Faiz punya rambut?
+Punya, tapi botak.

=Eh, ada ade..(disapa tantenya)
+Ade..namanya Faiz

+Ibu, ini apa? (menyodorkan telunjuk tangan kanan ke arah ibu)
-Ini telunjuk.
+Bukan, ini ibu.

=Ini siapa? (menunjuk dada Faiz)
+Ini Faiz.
=Kalau ini siapa? (menunjuk video anak di youtube)
+Ini teman Faiz
=Teman Faiz siapa namanya?
+Namanya...m...adzan!

-Abah, ini anaknya ingin main sama abah! (teriak ibu pada abah di atas tangga)
+Abah, ini anaknya mau turun.

=Faiz, ayo masuk!
+Ih, orang dianya mau jalan-jalan ke luar, Opa!

+Aduh! (terlindas sepeda roda tiganya sendiri)
-Kenapa?
+Faiz ga bisa juara satu lagi nih!
-Lo kok ga bisa?
+Mogok nih sepedanya!

+Ibu, kenapa ini? (nunjuk lututnya)
-Oh, itu motif garis-garis jok kursi. Itu karena Faiz kelamaan berlutut jadi ngejiplak di kulit.
+Nanti deh diurut sama Nenek Bibah.

+Ibu bajunya sobek. (menunjuk daster ibu yang bolong :p)
-Iya, ga apa-apa.
+Ibu bajunya kenapa ada sobeknya?
-Bajunya udah lama.
+Udah ga bisa dipake lagi bajunya?
-Masih bisa dipake.
+Ga bisa dipake tidur bajunya?
-Masih bisa dipake tidur. Udah, sekarang Faiznya tidur.
+Ibu jangan berisik ya! Mungkin yang lain tidur.

+Ibu, ini tembok besar (menunjuk tembok).
(Ibu mengangguk)
+Ibu ko ga nanya Faiz?
-Nanya apa?
+Ini, tembok.
-Oh. Itu tembok apa ya?
+Ini tembok besar.

(Al Fatihah Jilid 1)
+Yuk baca doa mau bobo. Bismika..
-Alloumaayawabimikaamut.
+Aamiin. Sekarang ditambah ya. Bismillah..
-iwohmaniwoim.
+Alhamdu..
-iahiwohmaniwoim..
+Arrohmaan..
-iwoim..
+Maalik..
-Muammad (Muhammad) Faiz
+Bukan. Ini Al Fatihah jadi Maalikiyaumiddiin..
-Bukan. Malik muammad faiz..

(Alfatihah jilid 2)
Faiz hendak minum susu.
-Ayo sini tusuk dulu (sedotannya). Bismillaahirrahmaanirrrahiiim.
+Malikiaumiddin. Iyyakanabuduwaiyyaka. Ihdina.

(Faiz urut-urut tangan ibu sambil cocol-cocol minyak telon)
+Enak ya diurut, ibu?
-Iya, enak nih ibu diurut Faiz.
+Pake minyak biar perut ibu ga panas.
-???

=Eh, lempar-lempar barang! Sentil nih! Nih! (pura-pura sentil punggung tangan kanan Faiz)
+Satu lagi, Wo! (Nyodorin tangan kirinya)
(serasa pijat refleksi)

+Ibu lagi apa?
-Ibu lagi siapin baju Faiz.
+Baju apa?
-Baju merah
+Mana bajunya?
-Itu.
+Bukan. Itu bukan baju merah.
-Loh, itu kan bajunya warna merah.
+Bukan, itu baju Faiz!

(Menyalakan pad untuk main game)
-Mau main yg mana?
+Owangcem.
-Ha? Oncom?
+Owang cewem , ibu!
(Catatan: orang serem adalah permainan sepak bola. Pemainnya bertangan panjang, badannya tak proporsional)
+Owangnya sakit kepala kena bola. Owangnya jatuh. Owangnya ga ada bomnya (membandingkan dgn game fruit ninja).

-Faiz lagi main apa?
+Mainan inisbuk (english book).

+Ibu, abahnya mana?
-Abahnya kerja
+Oh kirain Faiznya diajakin kerja

Senin, 10 September 2012

Giveaway Novel Cinderella Syndrome, Leyla Hana


Akhirnya ikutan juga setelah bingung milih tokoh yang mau dikembangkan :D Pilihannya jatuh pada Violet! Selamat membaca dan doakan menang ya ;)



Violet, 25 tahun, seorang penulis yang jarang keluar rumah, hingga menjadi amat manja dan tidak bisa bepergian ke mana-mana sendirian. Ia harus mengajak Wina, sahabatnya atau ibunya kalau tidak ingin tersesat. Terpikir untuk menikah supaya punya pengawal pribadi yang siap mengantarnya ke mana-mana.

Mendapatkan suami yang memahami kemanjaannya ini tentu tak mudah. Satu hari Violet mendapatkan surel dari seorang fans beratnya. Menurut orang tersebut, ia sudah menyukai tulisan-tulisan Violet sejak lama. Bahkan sebelum Violet menerbitkan buku. Katanya, artikel dan cerpen Violet sudah disukainya kala masih menjadi kontributor sebuah majalah remaja yang tak terlalu ngetop dan sudah tak terbit lagi.

Violet dan fansnya yang bernama Banyu itu kian lama menjalin komunikasi yang intens. Tapi belum satu kalipun mereka kopi darat. Semua hanya via surel dan chat (tanpa webcam karena Violet tak suka). Banyu menjadi tahu masalah Violet yang bergantung pada orang lain bila harus ke luar rumah. Maka ia pun berencana membantu menyembuhkan kebiasaan aneh Violet.

Saat itu Violet tengah melakukan riset untuk novel terbarunya. Salah satunya tentang permukiman tradisional di sebuah desa pedalaman. Banyu menyanggupi untuk membantu mendapatkan hasil riset dengan mengantarnya ke sebuah desa tempatnya dulu ber-KKN kala kuliah.

Mereka janji bertemu di sebuah terminal bis. Violet mulanya ragu tapi ia berniat membuat novel yang berbeda dari sebelumnya. Outline yang matang sudah disiapkan. Maka ia pun memberanikan diri pergi bertualang dengan orang yang belum pernah ditemuinya. Bahkan ia tak meminta ibu ataupun Wina untuk menemani. Riset kali ini memakan waktu yang cukup menyita. Tak sampai hati ia memaksa ibu atau sahabatnya mengorbankan waktu dan aktivitas harian mereka demi menemaninya bertualang.

Di terminal, Violet tak menemukan Banyu. Ia hanya mendapatkan surat yang dititipkan pada pengurus terminal. Surat itu berisi petunjuk perjalanan menuju desa yang hendak dijadikan objek riset. "Kita ketemu di sana. Aku berangkat duluan. Ada yang harus kukerjakan."

Pergi ke tempat jauh tanpa ditemani siapapun dengan berkendara umum adalah neraka bagi Violet. Segala kemungkinan buruk mengahantui dirinya. Tapi hati kecilnya menginginkan dia menuruti arahan Banyu. Ia pun nekat bertualang sendirian.

Perjalanan panjang membutuhkan beberapa kali penggantian kendaraan umum. Dua kali naik bis, satu kali naik colt, dan satu kali naik angkutan pedesaan. Ditambah ia harus jalan mendaki melalui jalan setapak. Desa tujuannya berada di atas bukit dan tak tersedia angkutan umum ke sana.

Sepanjang perjalanan Violet banyak mencatat, memotret, dan menemukan banyak ide menulis. Perlahan dia berani mengobrol dengan orang-orang yang ditemuinya. Dia tak menyesali putusannya untuk nekad.

Sesampainya di desa tujuan, Violet dikejutkan dengan kampung tradisional yang eksotik. Dia juga menemukan ibu, ayah, dan Wina di sana. Mereka hadir sebagai bagian dari kejutan Banyu.

Rupanya Banyu merangkai alur perjalanan Violet agar ia leluasa membawa ayah, ibu, dan Wina dengan kendaraan pribadi. Di kampung eksotik itu, Banyu melamar Violet. Ia bahkan mengajaknya menikah langsung saat itu juga.

Violet terpana. Ia tak menyangka mendapatkan timbunan rezeki dalam satu masa. Lamaran Banyu diterimanya. Mereka kemudian menjadi pasangan yang hobi jalan-jalan.

Selasa, 04 September 2012

Patah Hati, Jatuh Cinta (Karena ASI)

Teruntuk anakku, Malik Muhammad Faiz

Waktu menunjukkan pukul 21.00 WIB. Kupandangi lelaki mungil lelap tidur di sebelahku. Mata beralih pada kalender di dinding. September 2012. Dua tahun tujuh bulan usianya kini. Secepat itu waktu berlari. Lelaki mungilku pun kini sedang gemar berlari.

Kugenggam lengannya. Aih… sudah jauh lebih lebar dari saat ia lahir dulu. Telapak tangannya sekarang empuk kemerahan. Jari-jarinya menggembung sehat. Kuku jarinya pun putih kemerahan, tebal, dan sudah bisa kuraba. Dua setengah tahun lalu tangan itu kisut dengan kuku yang sangat tipis. Buatku berkeringat dingin tiap kali mengguntingnya.

Eh, lelaki imutku menggeliat. Wajahnya berkerut sejenak. Kutepuk pelan dadanya lalu kucium keningnya. Kerutan itu memudar. Kuusap ubun-ubun kepalanya. Ah, tak lagi ada denyut di kepalanya. Denyut khas bayi yang baru lahir karena tempurung kepalanya belum menutup sempurna.

Masih kuingat betapa khawatirnya aku dengan lubang berbentuk elips memanjang di bagian tengah kepalanya saat itu. Dan kini ketika kuraba, mulus sudah tempurungnya. Rambutnya pun telah menebal dan hitam. Tak seperti dulu yang tipis dan kemerahan.

Kugeser pelan tubuhku merapat padanya. Hm…dulu kaulah yang merapat padaku. Membuka paksa kancing bajuku. Berucap sambil berharap “Nen, ibu!” Bahkan sebelum kau bisa bicara, tangan kecilmu memukul pelan dada ini. Pertanda kau haus dan ingin segera menyesap ASI.

Masih terekam dalam benakku bagaimana lincah bola matamu menatapku saat menyusu. Mata yang ikut tersenyum saat kutarik kedua ujung bibirku ke atas. Mata yang ikut bernyanyi ketika kusenandungkan lagu. Mata yang turut gembira kala kuajak bicara.

Sementara mulutmu sibuk menghisap nutrisi, lenganmu tak jua kunjung diam. Saat menyesap, kau memukul pelan dadaku. Kau pencet-pencet dua gentong susu ini. Kau usap pipiku. Kau jawil bibir dan hidungku. Bahkan tak segan kau tusuk mata ini dan kau jambak rambutku. Kuraih lengan aktifmu lalu pura-pura kugigit gemas. Kaupun tertawa.

Kusandarkan kepalaku pada keningmu. Ya Tuhan! Kakimu kini sudah menyentuh lututku. Padahal dua tahun lalu kakimu baru sampai di perutku. Sepanjang itukah waktu yang sudah terlampaui bersamamu?

Tak pernah kulupa, sayang, kau adalah fans berat ASI. Ketika kumulai mengumandangkan penyapihan di usiamu yang ke 22 bulan, kau tak suka. Jadwal menyusu yang sudah rapi jadi berantakan. Maafkan ibu, sayang karena tak peka dengan ketidaksiapanmu. Kitapun kembali mengaturnya bersama-sama.

Lalu sebulan kemudian kau harus menjalani rawat inap di rumah sakit selama lima hari. Ajaib! Semua cairan terolak tubuhmu kecuali infus dan ASI. Terima kasih, Tuhan, Kau ciptakan ASI. Saat itu langsung terbersit dalam pikirku untuk terus memberimu ASI, sayang. Tak peduli sampai berapa usiamu kelak. Seperti Bunda Hanzky dan Jehan.

Tapi rupanya kau siap lebih cepat dari dugaanku. Di usia dua tahun sepuluh hari tanpa persiapan apapun kau tertidur di malam hari tanpa ASI. Berlanjut pada jadwal tidur siang maupun malam di hari-hari berikutnya. Tak ada pemisahan. Kita tetap tidur bersebelahan. Tak ada ramuan yang kutempelkan di dada. Tak ada ancaman bagimu untuk berhenti menyusu. Tak ada acara demam dan payudara bengkak gara-gara tidak memberikan ASI lagi.

Kau tak menangis meraung-raung seperti aku dahulu (menurut penuturan nenekmu). Kau hanya membutuhkan waktu lebih panjang untuk bisa tertidur. Satu kali kau memintaku bermain ucang angge (menempatkan anak tengkurap di kaki antara lutut dan punggung kaki sementara ibu tiduran di kasur. Berulang-ulang kaki dinaikturunkan sambil bernyanyi) selama setengah jam sampai tertidur.

Dua pekan pasca menyapih aku merindu. Terasa ada yang hilang dariku. Masa romantis berdua bersama lelaki mungilku tak lagi dapat kunikmati.
“Seperti patah hati ya, Bu?” kata dr. Oei saat kucurhat padanya via twitter. “Nggak apa-apa. Alihkan ke hal-hal positif saja,” sarannya.

Ya, sepertinya aku patah hati. Aku kehilangan masa intim berdua saja dengan anakku. Anak yang baru hadir di usia pernikahanku yang ke tiga tahun. Tapi untunglah obatnya sangat mudah kudapatkan. Si pembuat patah hati justru obat paling mujarab. Melihatnya kian tumbuh dan berkembang adalah anugerah bagiku. Ia semakin pintar, semakin cerewet, semakin banyak ingin tahu, semakin menggemaskan, semakin sering buatku mengelus dada, semakin sering buatku tertawa, semakin sering buatku memutar otak, semakin bisa menyenangkan hati.

Ia ada di sebelahku kini sedang mendengkur pelan. Hoahem..buatku ikut mengantuk. Kulingkarkan lenganku padanya. “Ibu sayang kamu, Nak,” bisikku di telinganya.
“Hm..” ujarnya sambil menggeliat dan berbalik arah padaku. Lengan kirinya kini menempel di leherku.

Ah, aku bukan patah hati. Aku jatuh cinta lagi dan lagi dan lagi…


Tulisan ini diikutsertakan pada Breastfeeding Month Blog Competition bertema Breastfeeding Worth Fighting For Periode 27 Agustus - 7 September 2012

Kamis, 02 Agustus 2012

Editor Cilik

Saya baru merasakan manfaat membacakan buku pada balita. Diam-diam bakat editor ada pada Faiz (2 tahun 6 bulan). Hehehe...mungkin saya kegeeran ya? Nggak apa-apa lah. Saya senang kok. Hihihi..

Faiz ala Ayu Ting Ting

Satu hari kami berkunjung ke Bandung. Saya sedang menjemur pakaian dan meninggalkan Faiz sendiri di ruang tengah. Ia sedang bermain mobil-mobilan.

Lalu saya curiga karena tak ada ocehan dari mulut lelaki kecilku itu. Biasanya ini tanda-tanda ia menemukan aktivitas baru yang cenderung ke arah merusak atau membahayakan. Maka saya pun menengok melalui jendela samping sekitar empat meter dari tempat menjemur.

Benar saja. Faiz sedang memegang ponsel milik kakakku. Khawatir akan dilempar (biasanya ia memang senang melempar ponsel), kuketuk kaca jendela.

"Tidak boleh! Simpan!"

Faiz menurut. Ia kemudian jongkok dan menaruh ponsel itu di lantai. Ketika ia melakukannya, saya kembali menjemur. Tak disangka, Faiz merasa kehilangan saat tak menemukan saya di jendela. Tiba-tiba ia berseru berulang-ulang sambil menggedor-gedor kaca jendela.

"Ibu! Di mana kau, ibu!"

Saya yang sedang memeras pakaian jadi tak bertenaga. Lucu sekali pilhan katanya.

Masam

Masih di Bandung. Kali ini dengan kakak saya. Faiz mengamati abang sepupunya yang sedang menikmati yoghurt.

"Faiz nggak boleh ya. Ini acem," kata kakakku.

"Masam," sahutnya.

Atau Apa

Saya sudah membiasakan Faiz memilih untuk kepentingannya sendiri. Seperti pakaian dan mainan.

Satu hari Faiz mengajak wawonya bermain bersama. Mereka mendatangi kotak mainan. Karena tak mungkin dimainkan semua, ia diberi pilihan.

"Faiz mau yang mana? Ini apa ini?" tanya wawo sambil menunjuk mainan.

"Faiz mau yang mana? Ini atau ini?" ulangnya mengoreksi pilihan kata wawo.

Matching Kancing

Faiz (2tahun 5bulan) memiliki sepasang bantal guling mungil bergambar karakter Ben10. Ini hadiah dari uanya saat ulang tahun pertama. Bantal dan guling ini berwarna hijau dan kuning.

Satu malam menjelang tidur.

"Ih, Faiz bajunya sama dengan Ben10, hijau kuning!" sahutku. Faiz memperhatikan baju kaos yang dipakainya. Warnanya memang nyaris serupa.

"Eh, ibu juga bajunya hijau. Matching nih ada hijaunya kita," kataku lagi. Faiz lalu melihat daster kembang-kembang hijau yang kukenakan.

Mana kancingnya? Baju Faiz ga ada kancingnya. Baju ibu ada kancingnya!" seru putraku itu.

Hahaha ada-ada saja.

Anak Nakal atau Banyak Akal?

Ini adalah buku antologi ke tiga saya. Judulnya "Anak Nakal atau Banyak Akal?" Terbitan Elex Media Komputindo pada Juni 2012. Masih fresh lah. Coba cari di toko buku senusantara deh. Ga akan susah nemuinnya :)

Audisi antologi ini sekitar pertengahan tahun 2011. Jadi kurang lebih satu tahun prosesnya untuk bisa menjadi buku. Makanya membaca buku ini seolah bernostalgia. Soalnya anak-anak yang diceritakan dalam buku ini setidaknya sudah bertambah tua satu tahun dari saat mereka jadi bahan cerita. Namanya anak-anak, satu tahun pasti banyak perkembangan yang dilaluinya. Termasuk "kenakalannya".

Faiz juga begitu. Sewaktu saya menuliskan pengalaman menghadapi "kenakalan" Faiz dalam audisi ini, putra saya itu baru berusia 17 bulan. Jangankan berbicara, lari saja dia belum mahir. Ketika buku ini hadir, Faiz sudah berusia 28 bulan. "Kenakalan"-nya jauh lebih banyak. Ya prilakunya, ya bicaranya. Tentunya jika audisi itu baru ada sekarang, saya akan kebingungan menceritakan "kenakalannya" yang mana. Saking banyaknya. Hehehe...

Menyenangkan bisa ada dalam buku ini. Banyak penulis yang sudah biasa terpampang namanya dalam buku solo maupun antologi lain. Buat saya ini istimewa. Karena ini adalah buku pertama saya yang sifatnya komersil. Jadi, beli ya ;)

Ah, iya. Judul tulisan saya di sini adalah "Spons Itu Bernama Faiz".

Jumat, 06 Juli 2012

Dawai Hati

Nah, ini buku antologi kedua saya. Judulnya Dawai Hati (Merajut Rindu Menjemput Samara). Buku ini sekuel dari Bingkai Rindu Samara. Keduanya proyek charity untuk Rumah Baca. Dari judulnya tentu sudah sangat tercermin apa yang ada di dalamnya kan? Yup! All about love.

Tulisan saya di dalamnya berkisah tentang secuplik perjalanan saya dan suami kala masih mencari jodoh sampai akhirnya kami "jadi". Terus terang, di dalam perjalanan tersebut kami tidak sendiri. Ada perantara kami. Makanya judul tulisannya "Gara-gara Comblang". Siapa dan bagaimana kisahnya, silakan baca sendiri ya di buku ini.

Selasa, 05 Juni 2012

Kacamata Pengantin

Ini adalah buku pertama yang terbit dan memuat karya saya di dalamnya. Judulnya Kacamata Pengantin. Awalnya ketika dalam satu komunitas penulis perempuan mengadakan audisi terbuka perihal pengalaman tak terlupakan berkenaan dengan pernikahan. Saya mencoba membuat satu tulisan tentang saya dan suammi. Tepatnya bagaimana kami akhirnya bisa menikah. Buku ini diterbitkan secara indie di paruh kedua 2011. Karena indie, pencetakannya sesuai dengan pesanan. Entah apakah masih dibuka untuk pemesanan atau tidak. Tak ada kabar lanjutan.

Sabtu, 26 Mei 2012

wuih, almost a year!

Wuih udah mau setahun aja nih blog ga ditengok-tengok. Terakhir posting waktu Ramadhan 2011. Sekarang sudah Rajab di 2012, sebentar lagi Ramadhan. Betapa tidak produktifnya ya... ckckckckck malu deh ;) Tapi lumayanlah masih suka nulis status plus beberapa,note di facebook :p Kelamaan ga buka blog jadi kagok gini,ya.. Ah,sudahlah. Saya mau coba posting sesuatu,hihihi. Duh, ga penting gini sih..